Uveitis (H 20.9)

Salah satu differential diagnosis jika kita mendapati pasien mata merah dengan visus turun.

Insidensi uveitis bervariasi berdasar letak geografis dan usia pasien. Pada sebuah studi tahun 2006-2007 , disebutkan bahwa angka kejadian kasus uveitis baru yaitu 24,9 per 100.000 orang. Disebutkan juga bahwa prevalensi uveitis laki-laki dan perempuan tidak berbeda signifikan, namun uveitis pada perempuan lebih tinggi kejadiannya. 1

Uveitis adalah peradangan pada lapisan uvea. Lapisan uvea berada di antara sclera dan choroid.

Gambar. Pembagian Uveitis secara anatomi5

Klasifikasi Uveitis berdasan Standarization Uveitis Nomenclatur

1.Berdasarkan lokasi inflamasi:

    Panuveitis: melibatkan seluruh traktus uvea.

    Uveitis anterior: iris dan/atau badan siliaris anterior.

    Uveitis intermediet: badan siliaris pars plana dan vitreus anterior.

    Uveitis posterior: koroid dan/atau retina.

    Gambar pembagian uveitis secara anatomi2

    UveitisAnteriorIntermedietPosteriorPanuveitis
    Symptoms-red eye
    -painful eye
    -worsening floaters
    -decreased vision
    -worsening vision
    -visual field changes
    -red,
    -painful eye;
    -severely depressed visual acuity; -floaters
    Sign– Cell dan Flare on the anterior chamber
    – Sinekia Posterior
    – keratic precipitates
    -vitreous cell and haze snowballs
    -pars plana snowbank
    -cystoid macular edema
    chorioretinal lesions
    -retinal whitening
    -vascular sheathing
    -anterior chamber cell and flare,
    -vitreous cell and haze,
    -chorioretinal lesions
    -retinal whitening
    Tabel . Tanda dan Gejala Uveitis 1

    2. Berdasarkan Onset

    • Sudden (mendadak): gejala timbul dalam beberapa hari
    • Insidious (perlahan): gejala berkembang lambat

    3. Berdasarkan Durasi

    • Limited: episode ❤ bulan
    • Persistent: episode ≥3 bulan

    4. Berdasarkan Pola Klinis

    • Acute: onset cepat, durasi terbatas, biasanya resolusi lengkap
    • Recurrent: episode akut yang berulang dengan periode bebas gejala tanpa terapi
    • Chronic: inflamasi menetap ≥3 bulan, relaps cepat jika terapi dihentikan

    5. Derajat Aktivitas Inflamasi (sel di COA – anterior chamber cells)

    (ditentukan melalui slit-lamp examination dengan pembesaran tinggi dan pencahayaan standar)

    Jumlah Sel / Field (1×1 mm beam)Grading SUN
    00
    1–5+0.5
    6–15+1
    16–25+2
    26–50+3
    >50+4

    6. Flare (Protein dalam Aqueous Humor)

    Kekeruhan AqueousGrading SUN
    None0
    Faint+1
    Moderate (iris & lens clear)+2
    Marked (iris & lens detail blur)+3
    Intense (fibrinous, plasmoid aqueous)+4

    7. Vitreous Haze (untuk intermediate/posterior uveitis)

    • Skor dari 0 (jernih) sampai 4+ (tidak bisa melihat retina)

    Etiologi

    Uveitis terkait lensa (phacoanaphylactic) atau pasca trauma/operasi.

    Infeksi: TBC, toksoplasmosis, HSV, VZV, CMV, sifilis, Lyme disease.

    Non-infeksi:

    Autoimun: spondiloartritis, JIA, Behçet, VKH, sarcoidosis.

    Idiopatik (penyebab tidak diketahui).

    Masalah sistemik: penyakit inflamasi sistemik seperti lupus, IBD.

    Drug Induce Uveitis (DIU)

    terdapat obat-obatan yang diduga menjadi penyebab uveitis.4

    Dalam review tersebut dipaparkan berbagai mekanisme dari obat-obatan dapat menyebabkan uveitis.

    Tanda dan Gejala

    • Nyeri
    • Fotofobia
    • Penglihatan kabur
    • Lakrimasi
    • Floaters
    • Mata merah (terutama pada uveitis anterior)
    • Tyndall effect di bilik mata depan (flare dan sel)

    Pemeriksaan Penunjang

    • Slit lamp (untuk flare & cell)
    • Funduskopi (evaluasi retina dan diskus)
    • OCT, FA, dan USG B-scan jika media keruh
    • Pemeriksaan lab berdasarkan dugaan klinis (ACE, PPD, VDRL, HLA-B27, ANA, dll.)

    Prinsip Terapi

    • Anti-inflamasi:
      • Steroid topikal (prednisolone acetate 1%) untuk uveitis anterior.
      • Steroid sistemik untuk posterior/panuveitis.
      • Imunosupresan (methotrexate, azathioprine, cyclosporine) jika steroid tidak cukup.
    • Mydriatic/cycloplegic untuk mencegah sinekia posterior.
    • Antimikroba jika penyebab infeksi diketahui.
    • Terapi penyakit sistemik sesuai etiologi.

    Pencegahan

    Vitamin D

    dalam sebuah jurnal metaanalisis dipaparkan bahwa orang yg defisiensi vit D memiliki risiko 2,04x terkena NIU (non infeksius uveitis)3

    Komplikasi

    • Sinekia posterior
    • Glaukoma sekunder
    • Katarak
    • Edema makula
    • Papilitis/neuritis optik
    • Atrofi optik
    • Panuveitis kronis

    Prognosis

    • Bergantung pada etiologi, lokasi uveitis, dan ketepatan terapi.
    • Uveitis anterior biasanya prognosis lebih baik.
    • Uveitis posterior atau panuveitis memiliki risiko kehilangan penglihatan lebih tinggi.

    Referensi

    1 Duplechain A, Conrady CD, Patel BC, Baker S. Uveitis. 2023 Aug 8. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2024 Jan–. PMID: 31082037.

    2. https://www.uveitispr.com/en/que-es-uveitis

    3Rojas-Carabali W, Pineda-Sierra JS, Cifuentes-González C, Morales MS, Muñoz-Vargas PT, Peña-Pulgar LF, Fonseca-Mora MA, Cruz DL, Putera I, Sobrin L, Agrawal R, de-la-Torre A. Vitamin D deficiency and non-infectious uveitis: A systematic review and Meta-analysis. Autoimmun Rev. 2023 Dec 3;23(2):103497. doi: 10.1016/j.autrev.2023.103497. Epub ahead of print. PMID: 38052262.

    4Agarwal M, Dutta Majumder P, Babu K, Konana VK, Goyal M, Touhami S, Stanescu-Segall D, Bodaghi B. Drug-induced uveitis: A review. Indian J Ophthalmol. 2020 Sep;68(9):1799-1807. doi: 10.4103/ijo.IJO_816_20. PMID: 32823396; PMCID: PMC7690475.

    5 Kanski Ophthalmology

    6 AAO BCSC Section 9 Uveitis and ocular Inflammation, 2024-2025

    #artikel yang tertunda

    #Uveitis

    avatar Tidak diketahui

    Penulis: Hanifah Az Zahrah

    HUMAN

    Tinggalkan komentar