Uveitis (H 20.9)

Salah satu differential diagnosis jika kita mendapati pasien mata merah dengan visus turun.

Insidensi uveitis bervariasi berdasar letak geografis dan usia pasien. Pada sebuah studi tahun 2006-2007 , disebutkan bahwa angka kejadian kasus uveitis baru yaitu 24,9 per 100.000 orang. Disebutkan juga bahwa prevalensi uveitis laki-laki dan perempuan tidak berbeda signifikan, namun uveitis pada perempuan lebih tinggi kejadiannya. 1

Uveitis adalah peradangan pada lapisan uvea. Lapisan uvea berada di antara sclera dan choroid.

Gambar. Pembagian Uveitis secara anatomi5

Klasifikasi Uveitis berdasan Standarization Uveitis Nomenclatur

1.Berdasarkan lokasi inflamasi:

    Panuveitis: melibatkan seluruh traktus uvea.

    Uveitis anterior: iris dan/atau badan siliaris anterior.

    Uveitis intermediet: badan siliaris pars plana dan vitreus anterior.

    Uveitis posterior: koroid dan/atau retina.

    Gambar pembagian uveitis secara anatomi2

    UveitisAnteriorIntermedietPosteriorPanuveitis
    Symptoms-red eye
    -painful eye
    -worsening floaters
    -decreased vision
    -worsening vision
    -visual field changes
    -red,
    -painful eye;
    -severely depressed visual acuity; -floaters
    Sign– Cell dan Flare on the anterior chamber
    – Sinekia Posterior
    – keratic precipitates
    -vitreous cell and haze snowballs
    -pars plana snowbank
    -cystoid macular edema
    chorioretinal lesions
    -retinal whitening
    -vascular sheathing
    -anterior chamber cell and flare,
    -vitreous cell and haze,
    -chorioretinal lesions
    -retinal whitening
    Tabel . Tanda dan Gejala Uveitis 1

    2. Berdasarkan Onset

    • Sudden (mendadak): gejala timbul dalam beberapa hari
    • Insidious (perlahan): gejala berkembang lambat

    3. Berdasarkan Durasi

    • Limited: episode ❤ bulan
    • Persistent: episode ≥3 bulan

    4. Berdasarkan Pola Klinis

    • Acute: onset cepat, durasi terbatas, biasanya resolusi lengkap
    • Recurrent: episode akut yang berulang dengan periode bebas gejala tanpa terapi
    • Chronic: inflamasi menetap ≥3 bulan, relaps cepat jika terapi dihentikan

    5. Derajat Aktivitas Inflamasi (sel di COA – anterior chamber cells)

    (ditentukan melalui slit-lamp examination dengan pembesaran tinggi dan pencahayaan standar)

    Jumlah Sel / Field (1×1 mm beam)Grading SUN
    00
    1–5+0.5
    6–15+1
    16–25+2
    26–50+3
    >50+4

    6. Flare (Protein dalam Aqueous Humor)

    Kekeruhan AqueousGrading SUN
    None0
    Faint+1
    Moderate (iris & lens clear)+2
    Marked (iris & lens detail blur)+3
    Intense (fibrinous, plasmoid aqueous)+4

    7. Vitreous Haze (untuk intermediate/posterior uveitis)

    • Skor dari 0 (jernih) sampai 4+ (tidak bisa melihat retina)

    Etiologi

    Uveitis terkait lensa (phacoanaphylactic) atau pasca trauma/operasi.

    Infeksi: TBC, toksoplasmosis, HSV, VZV, CMV, sifilis, Lyme disease.

    Non-infeksi:

    Autoimun: spondiloartritis, JIA, Behçet, VKH, sarcoidosis.

    Idiopatik (penyebab tidak diketahui).

    Masalah sistemik: penyakit inflamasi sistemik seperti lupus, IBD.

    Drug Induce Uveitis (DIU)

    terdapat obat-obatan yang diduga menjadi penyebab uveitis.4

    Dalam review tersebut dipaparkan berbagai mekanisme dari obat-obatan dapat menyebabkan uveitis.

    Tanda dan Gejala

    • Nyeri
    • Fotofobia
    • Penglihatan kabur
    • Lakrimasi
    • Floaters
    • Mata merah (terutama pada uveitis anterior)
    • Tyndall effect di bilik mata depan (flare dan sel)

    Pemeriksaan Penunjang

    • Slit lamp (untuk flare & cell)
    • Funduskopi (evaluasi retina dan diskus)
    • OCT, FA, dan USG B-scan jika media keruh
    • Pemeriksaan lab berdasarkan dugaan klinis (ACE, PPD, VDRL, HLA-B27, ANA, dll.)

    Prinsip Terapi

    • Anti-inflamasi:
      • Steroid topikal (prednisolone acetate 1%) untuk uveitis anterior.
      • Steroid sistemik untuk posterior/panuveitis.
      • Imunosupresan (methotrexate, azathioprine, cyclosporine) jika steroid tidak cukup.
    • Mydriatic/cycloplegic untuk mencegah sinekia posterior.
    • Antimikroba jika penyebab infeksi diketahui.
    • Terapi penyakit sistemik sesuai etiologi.

    Pencegahan

    Vitamin D

    dalam sebuah jurnal metaanalisis dipaparkan bahwa orang yg defisiensi vit D memiliki risiko 2,04x terkena NIU (non infeksius uveitis)3

    Komplikasi

    • Sinekia posterior
    • Glaukoma sekunder
    • Katarak
    • Edema makula
    • Papilitis/neuritis optik
    • Atrofi optik
    • Panuveitis kronis

    Prognosis

    • Bergantung pada etiologi, lokasi uveitis, dan ketepatan terapi.
    • Uveitis anterior biasanya prognosis lebih baik.
    • Uveitis posterior atau panuveitis memiliki risiko kehilangan penglihatan lebih tinggi.

    Referensi

    1 Duplechain A, Conrady CD, Patel BC, Baker S. Uveitis. 2023 Aug 8. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2024 Jan–. PMID: 31082037.

    2. https://www.uveitispr.com/en/que-es-uveitis

    3Rojas-Carabali W, Pineda-Sierra JS, Cifuentes-González C, Morales MS, Muñoz-Vargas PT, Peña-Pulgar LF, Fonseca-Mora MA, Cruz DL, Putera I, Sobrin L, Agrawal R, de-la-Torre A. Vitamin D deficiency and non-infectious uveitis: A systematic review and Meta-analysis. Autoimmun Rev. 2023 Dec 3;23(2):103497. doi: 10.1016/j.autrev.2023.103497. Epub ahead of print. PMID: 38052262.

    4Agarwal M, Dutta Majumder P, Babu K, Konana VK, Goyal M, Touhami S, Stanescu-Segall D, Bodaghi B. Drug-induced uveitis: A review. Indian J Ophthalmol. 2020 Sep;68(9):1799-1807. doi: 10.4103/ijo.IJO_816_20. PMID: 32823396; PMCID: PMC7690475.

    5 Kanski Ophthalmology

    6 AAO BCSC Section 9 Uveitis and ocular Inflammation, 2024-2025

    #artikel yang tertunda

    #Uveitis

    Eviscerasi

    Eviserasi adalah prosedur pembedahan untuk mengangkat isi bola mata (intraokular contents) tanpa mengangkat sklera dan otot ekstraokular. Kornea biasanya ikut diangkat atau diinsisi. Prosedur ini berbeda dengan enukleasi, di mana seluruh bola mata (termasuk sklera) diangkat.

    Tujuan Eviserasi

    • Menghilangkan nyeri pada mata yang sudah tidak memiliki potensi penglihatan (blind, painful eye).
    • Menyediakan penampilan kosmetik yang baik melalui pemasangan implan bola mata.
    • Prosedur yang relatif lebih mudah dan cepat dibanding enukleasi.

    📋 Indikasi Eviserasi

    Menurut AAO, indikasi eviserasi meliputi:

    • Mata buta dan nyeri kronis (misalnya pasca trauma, infeksi, atau glaukoma end-stage).
    • Endoftalmitis yang tidak responsif terhadap terapi → eviserasi dapat membantu mengendalikan infeksi.
    • Trauma bola mata berat dengan disorganisasi intraokular.
    • Sebagai pilihan kosmetik bila bola mata atrofi dan tidak estetik.

    Kontraindikasi

    Kontraindikasi utama menurut AAO:

    • Kecurigaan atau konfirmasi adanya tumor intraokular (misalnya melanoma uveal, retinoblastoma) → enukleasi lebih disarankan karena eviserasi tidak mengangkat semua jaringan yang dapat menyebar.
    • Infeksi aktif berat pada jaringan sekitar orbita (selulitis orbita) → prosedur ditunda sampai infeksi terkendali.

    Teknik Operasi (Gambaran Umum)

    1. Sayatan limbus atau insisi kornea dibuat.
    2. Isi bola mata (vitreus, retina, uvea) diangkat.
    3. Sklera dibersihkan dari sisa jaringan intraokular.
    4. Implan bola mata dimasukkan ke dalam ruang sklera.
    5. Sayatan ditutup dan konjungtiva diperbaiki.
    6. Prostesis mata eksternal bisa dipasang kemudian.

    sumber gambar

    hari pertama menjalani profesi….

    Selalu di antara rasa takut dan berharap…

    takut kalau keputusanku salah, takut orang tidak puas denganku, takut aku tidak sesuai yang mereka harapkan…

    berharap yg trbaik utk kesembuhan mereka… berharap semua akan baik2 saja meski di akhir tidak selalu baik2 saja hasilnya…

    karena dua perasaan itu selalu membuatku sadar, aku harus belajar.. bukan semata-mata untuk diriku sendiri.. tapi supaya aku bisa menjadi dokter yang baik untuk pasien-pasienku.. memberikan hak pasien, ditangani dengan baik, dengan layak, dengan kompeten…

    Lalu urusan hasil , sama2 berdoa berharap yg terbaik kepada Allah SWT..

    Bismillah, semoga Allah meridhoi…

    Prompt tulisan harian
    Ceritakan tentang hari pertama Anda saat menjalani sesuatu — sekolah, bekerja, menjadi orang tua, dll.

    Persiapan Beasiswa LPDP Dokter Spesialis

    Bismillah..

    Alhamdulillah selama ada niat baik, insyaAllah selalu ada jalan menuju roma…

    Dalam rangka transformasi kesehatan khususnya pemenuhan tenaga dokter spesialis di Indoensia, Pemerintah memperbanyak beasiswa dokter spesialis baik melalui LPDP maupun Beasiswa Kemkes.

    Kali ini saya akan bahas tentang beasiswa LPDP.

    Dalam satu tahun pada umumnya LPDP akan membuka 2 gelombang.
    Seleksi beasiswa LPDP terdiri dari 3 bagian :


    1. Seleksi administrasi

    a. Pada tahap seleksi administrasi ini teman2 harus mulai mempersiapkan berbagai persyaratan dari STR ijazah transkrip nilai, sertifikat Toefl ITP, dsb


    b.Lalu ada beberapa pertanyaan-pertanyaan tentang diri sendiri. Dari hal tentang diri sendiri , organisasi, karya ilmiah, prestasi, penghargaan, dsb.

    (kalau tidak punya penghargaan bagaimana? tetap submit aja ya teman-teman)

    c. Esai kontribusi 1500 kata

    Tidak ada struktur pasti dari LPDP, bebas teman2 mau menulis tentang apa. (mungkin referensi struktur bisa lihat youtube yaaa)

    2. Seleksi Tes Bakat Skolastik

    setelah lolos administrasi, selanjutnya tes bakat skolastik.

    teman-teman mau belajar sendiri atau bimbel atau belajar bareng di youtube juga bisa.

    3. Seleksi Substansi

    Setelah lolos tes bakat skolastik, akan tiba waktunya wawancara.

    teman-teman akan diwawancara oleh tim dari LPDP.

    Mengulik bagaimana cv, esai, kesiapan teman-teman untuk melanjutkan sekolah lagi.
    Saran saya sebelum seleksi substansi harus banget temen2 latihan wawancara / mock up bisa dengan teman seprofesi, atau beda profesi. Perbanyak latihan !!! coba direkam dan evaluasi diri.

    Lalu,

    Awali semua dan akhiri semua dengan berdoa dengan niat yang baik tanpa lupa selalu memohon doa restu orang tua/suami/istri.

    Ketika tes, nothing to lose aja teman-teman. rejeki atau pun tidak dengan beasiswa ini, teman2 harus tetap melanjutkan kehidupan teman2. (tetap bekerja dengan sebaik mungkin, jika ada kesempatan apply lagi bisa diusahakan lagi)

    Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat untuk lainnya… -Hadist

    Menolong manusia, berkontribusi/bermanfaat untuk masyarakat adalah tujuan!

    ingat sumpah dokter kita, Saya akan membaktikan hidup saya guna kepentingan peri kemanusiaan

    -for the rest of my life

    untuk persiapan beasiswa bisa dimulai jauh-jauh hari ya teman2, jangan mepet 🙂
    belum punya akun? hayuk nyicil dibuat dulu akunnya yuk ke sini

    Semangat teman-teman !!! 😊

    Patient Safety (Puzzle part 1)

    Keselamatan pasien merupakan hal yang tidak bisa kita pisahkan dari keberadaan Rumah Sakit.

    Keselamatan Pasien telah diatur dalam Permenkes 11 Tahun 2017 tentang keselamatan pasien.

    Dalam uraian kali ini saya akan membahas terkait 6 sasaran keselamatan pasien, Insiden Keselamatan Pasien, dan sedikit contoh video keselamatan pasien untuk memudahkan pemahaman teman-teman staf yang bekerja di rumah sakit.

    1. Ketepatan Identifikasi pasien, lakukan identifikasi pasien minimal 2 dari 4 identitas pasien. empat identitas tersebut yaitu nama, tanggal lahir, nomor rekam medis, dan nomor penduduk pasien. Jangan melakukan identifikasi pasien beradasar tempat misalkan pasien ruang 6, atau pasien bed 2 di triase red. dsb karena hal tsb sangat berpotensi kita menjadi salah identifikasi pasien. ketika identifikasi pasien salah/ keliru untuk kelanjutan assesment maupun pemberian obat bisa akan menjadi salah.
    2. Komunikasi efektif, komunikasi efektif dengan menggunakan SBAR (dengan menulis/melaporkan Situation, Background, Assesment, Recommendation) pasien serta menuliskan hasil dari konsulan dengan TBaK( Tulis, baca, konfirmasi) pada dokter/DPJP.
    3. Meningkatkan keamanan obat-obatan yang diwaspadai. Dalam hal ini selalu berhati-hati dalam menggunakan obat-obatan high alert medication , lakukan double check pada obat-obatan yang LASA (look alike sound alike). serta lakukan selektif obat-obatan yang perlu direstriksi ex : elektrolit konsentrat.
    4. Memastikan sisi pembedahan yang benar, prosedur yang benar, dan pembedahan pada pasien yang benar. Penandaan lokasi operasi dengan simbol 0 o/ operator pada pasien. Secara rutin melakukan dan mencatat prosedur “sebelum insisi/ time out sebelum memulai tindakan pembedahan)
    5. Mengurangi risiko infeksi akibat perawatan kesehatan. Sering kita mendengar HAI’s (Hospital Associated Infection) yaitu infeksi nosokomial , infeksi yang didapat setelah seseorang dialkukan perawatan oleh tenaga kesehatan. pencegahan infeksi ini dapat dengan cara cuci tangan dengan benar. Cuci tangan dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu handwash(40″-60″ dengan air mengalir dan sabun) dan handscrub (20″-30″ dengan handrub. Lakukan cuci tangan pada 5 momen ( 2 sebelum, 3 sesudah).
    6. Mengurangi risiko cedera pasien akibat jatuh. Selalu lakukan assesmen pasien jatuh pada pasien, dapat menggunakan skala morse, humpty dumpty (untuk anak), sidney ( untuk geriatri)

    Insiden keselamatan pasien ialah setiap kejadian yang tidak disengaja dan kondisi yang mengakibatkan atau berpotensi mengakibatkan cedera yang dapat dicegah pada pasien.

    1. Kondisi Potensi Cedera Signifikan : Kondisi yang sangat berpotensi untuk menimbulkan cedera namun belum terjadi insiden. dikatakan signifikan jika dampak yang ditimbulkan berpotensi mengancam nyawa. misal : defibrilator di IGD rusak, namun belum ada pasiennya.
    2. Kejadian Nyaris Cedera : terjadinya insiden yang belum terpapar ke pasien. misal : Pasien diberikan racikan obat yang salah, namun belum diminum pasien dan masih sempat dikonfirmasi dan diganti dengan obat yang benar.
    3. Kejadian Tidak Cedera : Insiden yang sudah terpapar ke pasien namun tidak timbul cedera. misal : dikarenakan di dalam satu ruangan rawat inap kelas 1, terdapat 2 bed. kedua pasien bernama Joko. Joko 1 keluhan diare, Joko 2 keluhan demam. Perawat keliru memberikan obat parasetamol infus ke pasien Joko 1. Setelah diberikan obat Parasetamol infus pasien tidak mengalami keluhan apa-apa.
    4. Kejadian Tidak diharapkan : insiden yang mengakibatkan cedera pada pasien. contoh : pasien terpeleset di kamar mandi dan terdapat luka lebam di pipi dan luka robek di dahi.
    5. Sentinel : suatu kejadian tidak diharapkan yang mengakibatkan kematian, cedera permanen, atau cedera berat yang temporer dan membutuhkan intervensi untuk mempertahankan kehidupan, baik fisik maupun psikis, yang tidak terkait dengan perjalanan penyakitatau keadaan pasien. contoh : salah lokasi amputasi pasien, salah cara memasukkan elektrolit konsentrat hingga pasien meninggal.

    Yang tidak kalah penting setelah staf kita dapat mengidentifikasi insiden keselamatn pasien adalah membuat sistem pelaporan yang cepat, tanggap, dan akurat.

    Berikut buku saku dan video keselamatan pasien.

    Semoga bermanfaat, terima kasih 😀😀😀

    Penyakit Mata pada Penderita Diabetes Mellitus

    Diabetes Mellitus merupakan penyakit kronis/menahun yang terjadi karena gula darah seseorang di atas nilai normal (Kriteria diagnosis ADA, GDP > 125mg/dL, G2 jam Post prandial > 200mg/dL. atau HbA1c >= 6,5%). Hal ini dapat terjadi karena kurangnya hormon insulin (hormon yang bertugas memasukkan gula di darah ke dalam sel-sel jaringan tubuh) , karena resistensi reseptor insulin( reseptor insulin di sel/jaringan tubuh sudah tidak peka/ berfungsi baik), ataupun karena keduanya.

    Secara umum menurut ADA (American Diabetes Association) dibagi 4 jenis Diabetes Mellitus , yaitu sebagai berikut :

    1. Diabetes mellitus tipe 1, Diabetes mellitus yang disebabkan kurangnya produksi insulin dari sel Beta pankreas.
    2. Diabetes mellitus tipe 2, Diabetes yang disebebakan resistensi reseptor insulin di tubuh.
    3. Diabetes gestasional , Diabetes yang terjadi pada populasi ibu hamil.
    4. Diabetes tipe lainnya, diabetes yang terjadi bukan karena penyebab di atas, ex karena pemakaian obat.

    Pada tahun 2021, Diabetes mellitus menyerang 10,8% penduduk dewasa di Indonesia (179.750.000) atau sekitar 19.465. 102 penduduk dewasa.1

    Diabetes dapat menimbulkan berbagai komplikasi pada penderitanya, komplikasi kronis/ menahun pada diabetes mellitus .

    1.Mikrovaskular

    a. Retinopati :

    pemeriksaan retina mata dianjurkan dilakukan saat pertama pertemuan dengan penderita DM. Kemudian dapat dilakukan setiap tahun atau lebih cepat jika ada kelainan retina. 2

    b. Nefropati :

    nefropati diketahui dari adanya mikroalbuminuria, proteinuria, hingga penurunan laju filtrasi glomelural.

    Pemeriksaan mikroalbuminuria dilakukan saat pasien terdiagnosa DM, kemudian dapat diulang tiap tahun.2

    2. Makrovaskular

    a. Penyakit Jantung Koroner :

    Perlu ditelusur lebih jauh apakah pasien memiliki risiko tinggi aterosklerosis, contohnya : riw/ keluarga terkena jantung koroner, riw dm, Riw ketidaknyamanan di daerah dada. 2

    Perlu dilakukan rekam jantung saat istirahat kemudian rekam jantung dengan beban

    b. Penyakit Pembuluh Darah Perifer :

    perubahan bentuk kaki, neuropati, dan penurunan aliran darah ke kaki merupakan hal yang harus dicari dan diperhatikan pada penderita DM. 2

    lalu apa saja penyakit mata yang dapat timbul diakibatkan oleh diabetes mellitus?

    1. Katarak, Merupakan kondisi kekeruhan pada lensa mata. Pada populasi normal insiden terkena katarak ialah 10,8 sedangkan populasi pada penderita DM insiden terkena katarak ialah 20,4. Sekitar 2x lipat penderita DM terkena katarak dibanding populasi normal. Rasio insiden tertinggi pada kelompok usia 45-54 tahun. 3
    2. Diabetik retinopati, komplikasi yang dapat menyebabkan kebutaan pada pasien DM. Penyebab kebutaan yaitu dari maculopathy Diabetes dan komplikakasi dari Retinopaty Diabetes seperti vitrous hemorrhage, tractional retinal detachment, dan neovascular glaucoma. Lebih dari 50% pasien DM tipe 1 dan > 30% pasien DM tipe 2 memiliki risiko terjadinya kebutaan. Pada DM tipe 1 lebih berisiko terjadi Proliferatif retinopaty Diabetes dibanding DM tipe 2. Pada DM tipe 2 lebih berisiko terkena macular edema.4

    kontrol gula darah merupakan pencegahan terbaik agar tidak terjadi komplikasi lebih lanjut.

    Target gula penderita DM :

    gula darah dikatakan terkontrol baik apa bila

    gula darah puasa : 70-130 mg/dL

    gula darah 2 jam setelah makan : < 180mg/dL

    HbA1C : < 6,5 %

    Referensi

    1 https://idf.org/our-network/regions-and-members/western-pacific/members/indonesia/

    2 PAPDI, 2014. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Edisi VI. Jakarta: Interna Publishing.

    3.https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5997651/#:~:text=IRs%20of%20cataract%20were%2020.4,py%20in%20the%20general%20population.

    4.https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4398904/

    *sumber gambar : https://p2ptm.kemkes.go.id/

    POKJA AKREDITASI RS : Peningkatan Mutu & Keselamatan Pasien (PMKP) / Komite Mutu RS

    Referensi

    Fingertip Injury

    Dalam pengalaman sehari-hari teman-teman pasti pernah mendapatkan pasien yang terkena luka pada jari.

    Fingertip injury ialah jenis trauma paling sering terjadi pada tangan.

    Hal ini karena fingertip injury sangat berkorelasi dengan pekerjaan.

    *Bagaimana tipe/ klasifikasi dari fingertip injury?

    berdasar Allen classification :

    • Type 1: involves only the pulp
    • Type 2: involves the pulp and nail bed
    • Type 3: includes partial loss of the distal phalanx
    • Type 4: injury proximal to the lunula

    (Left) Wounds made along the green lines will probably heal on their own. (Right) Wounds made along blue lines will probably need some sort of surgery to heal.

    *Bagaimana manajemen dokter umum di igd RS dan FKTP ?

    1. Pastikan ABC (Airway, Breathing, Circulation) clear terlebih dahulu.
    2. Assesment status lokalis. (range of motion interphalanx joint, sensoris, capillary refill time, Xray)
    3. cuci luka, dapat dengan menggunakan pz 500cc. lebih baik lagi PZ ditambah antibiotik untuk mencuci luka. Jika ada fasilitas rontgen akan lebih baik lagi untuk mengidentifikasi kedalaman luka dan menentukan apakah ada fraktur pada tulang jari.)
    4. Jika tidak ada fraktur kita dapat langsung jahit dengan benang 5-0 atau lebih kecil lagi untuk hasil yang lebih rapih.
    5. Jika terdapat fraktur, ruptur tendon, dislokasi, significant finger avulsion, laserasi ekstensif sampai eponychium,amputasi dengan bone expose) , lakukan repair dan debridemant (untuk kompetensi dokter spesialis bedah/ortopedi) –> bisa dirujuk
    6. Injeksi ATS (sesuai identifikasi jenis luka dan status imunisasi tetanus pasien)
    7. Obat antinyeri dan antibiotik (kp)

    sumber :

    https://orthoinfo.aaos.org/en/diseases–conditions/fingertip-injuries-and-amputations/

    Pencle FJ, Doehrmann R, Waseem M. Fingertip Injuries. [Updated 2022 Aug 7]. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2022 Jan-.

    Retensi Urin 😀

    seorang wanita 60th datang dengan keluhan tidak bisa kencing sejak 1 hari yll… 🤔

    Pengertian

    Retensi urin ialah kondisi akut maupun kronis ketidakmampuan untuk mengeluarkan urin yang adekuat secara sadar.1 Retensi urin lebih banyak terjadi pada laki-laki.

    Epidemiologi

    Diperkirakan angka kejadian retensi urin pada laki-laki 4,5-6,8 per 1000 orang/tahun dan pada usia 80 tahun angka kejadian retensi urin dapat meningkat hingga 300 per 100 orang/tahun. Berbeda dari insidensi retensi urin laki-laki, pada wanita insidensinya hanya 7 tiap 1000 orang per tahun. 1

    Etiologi1

    1.obstruksi

    Benign Prostate Hyperplasia menjadi faktor tersering terjadinya retensi urin dengan prevalensi 53%

    2.infeksi dan inflamasi

    Pada kondisi infeksi dapat menimbulkan edema pada uretra atau vesica urinari.

    3.iatrogenik

    ada dua kondisi yang sering menyebabkan iatrogenic retensi urin yaitu efek samping setelah operasi dan efek obat.

    obat yang berkaitan dengan retensi urin misalnya golongan antiaritmia, antikolinergik, antidepresan dll.

    4.neurogenik

    dapat disebabkan gangguan saraf central maupun perifer yang berdampak pada gangguan sistem saraf otonom dan somatik yang berperan dalam proses berkemih. Contoh kasus pada pasien diabetic cystopathy, atau pada pasien post spinal cord injury.

    sumber1

    Cara diagnosis2

    dengan menilai post void residual /PVD (urin sisa dalam vesika urinaria setelah berkemih). Jika volume urin PVD > 300mL dapat dicurigai retensi urin.

    Evaluasi2 : Jika pasien tidak dapat berkemih, volume urin 15 menit setelah pemasangan kateter > 400mL , kateter dapat ditinggal. Jika volume sisa urin 200mL-400mL –> dapat diiambil atau ditinggal tergantung kondisi. Jika urin PVD < 200mL –> kateter urin dapat dilepas dan kemungkinan diagnosis bukan retensi urin.

    Terapi/ managemen2 :

    Terapi untuk pasie dengan retensi urin ialah dengan pemasangan kateter.

    pemasangan kateter urin ini dibagi menjadi 2 yaitu:

    1. kateter suprapubik (dilakukan jika terdapat kontraindikasi pemasangan keteter uretra)
    2. kateter uretra

    komplikasi2:

    -gagal ginjal akut

    -infeksi saluran kencing

    Sumber :

    1Serlin DC, Heidelbaugh JJ, Stoffel JT. Urinary Retention in Adults: Evaluation and Initial Management. Am Fam Physician. 2018 Oct 15;98(8):496-503. PMID: 30277739.

    2Dougherty JM, Rawla P. Female Urinary Retention. [Updated 2021 Dec 12]. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2022 Jan-. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK538497/

    Ileus

    Ileus adalah kondisi gangguan pasase pada usus, baik dalam bentuk sumbatan maupun kelumpuhan/ paralisis intestinal yang menyebabkan akumulasi isi intestinal di area proksimal sumbatan. 1

    Ileus secara anatomi dibagi menjadi letak tinggi dan ileus letak rendah.

    Ileus juga dapat dibagi manjadi ileus obstruktif dan ileus paralitik.

    Penyebab Ileus Obstruktif 2:

    – Adhesi intestinal (>50%)

    -Hernia( 25%)

    -Lesi inflamasi, intesusepsi, neoplasma, korpus alienum, atresia, stenosis,(25%)

    Penyebab Ileus Paralitik 3 :

    -Neurogenik (paska operasi, kerusakan medula spinalis, keracunan timbal, kolik ureter, iritasi persyarafan splanikus, pankreatitis)

    -Metabolik (gangguan keseimbangan elektrolit terutama hipokalemia, uremia, komplikasi DM, penyakit sistemik SLE, multiple sklerosis)

    -Obat-obatan (Narkotik, antikolinergik, katekolamin, fenotiazin, antihistamin)

    -Infeksi (pneumonia, empiema, urosepsis, peritonitis, infeksi berat lainnya)

    -Iskemia usus

    Ada banyak faktor yang dapat memicu ileus seperti obat antipsikotik (memiliki efek hipomotilitas) terutama clozapin. Kombinasi dengan antipsikotik lainnya dapat meningkatkan hipomotilitas intestinal dan kejadian mengancam jiwa. Progresi dari konstipasi menjadi ileus, obstruksi instestinal , iskemik usus besar, megacolon, dan kematian tidak jarang ditemukan pada penggunaan clozapin. 4

    Meski dalam hal ini konstipasi dapat dipengaruhi aktivitas yang kurang / sedentery life , kurang asupan cairan, dan kurang serat.4

    Manifestasi Klinis :

    Anamnesis :

    Perut kembung

    Mual

    Muntah

    Obstipasi

    pengalian riwayat pasien seperti riwayat operasi abdomen, obat-obatan , konstipasi kronis, perubahan feses, riwayat kanker dan pengobatannya, penyakit Chron.

    Pada pemeriksaan fisik :

    bising usus menurun (ileus paralitik)

    metallic sound (ileus obstruktif)

    ditemukan tanda peritonitis

    Pemeriksaan penunjang :

    Darah lengkap, ureum, kreatinin, amilase, elektrolit, urinalisis

    Rontgen abdomen (dapat ditemukan gambaran step ladder, herring bone, air fluid level)

    USG

    CT SCAN (jika diameter lumen >25 mmdan terlihat transitional zone antara lumen dilatasi dan lumen kolaps.

    Tata laksana :

    Ileus paralitik : konservatif dan suportif, dapat dilakukan dekompresi (dengan NGT), menjaga keseimbangan cairan dan elektrolit, memberikan terapi primer, dan memberikan nutrisi yang adekuat. Beberapa obat yang dapat dicoba metoklopramid bermanfaat untuk gastroporesis, sisaprid untuk ileus paralitik post operasi, klonidin untuk ileus paralitik karena obat-obatan.3

    penatalaksanaan operatif jika diterapi secara non operatif menjadi obstruksi complicated. Tanda obstruksi complicated : demam, takikardia, leukositosis, nyeri tekan terlokalisir, nyeri abdomen yang menetap, dan peritonitis.

    Apabila ada 3 dari tanda tersebut, maka kemungkinan terjadi obstruksi strangulata sebanyak 82%. Jika terdapat 4 tanda hampir 100% terjadi obstruksi strangulata2

    Komplikasi2 :

    • Dehidrasi
    • Gangguan keseimbangan elektrolit
    • Gangguan vaskularisasi usus dan nekrosis usus
    • Perforasi usus
    • Infeksi intraabdominal
    • Sepsis

    Referensi :

    1Vilz TO, Stoffels B, Strassburg C, Schild HH, Kalff JC. Ileus in Adults. Dtsch Arztebl Int. 2017;114(29-30):508-518. doi:10.3238/arztebl.2017.0508

    2EIMED PAPDI 1, 2015

    3Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, PAPDI, 2014

    4Albuquerque M, Maurício J, Cochat C, Vitória-Silva J. Life-Threatening Antipsychotic-Induced Ileus. Prim Care Companion CNS Disord. 2021 Nov 4;23(6):21cr02961. doi: 10.4088/PCC.21cr02961. PMID: 34738351.