Diabetes dan Puasa

Sering kita mendapat pertanyaan dari pasien DM,

” Dok saya bisa ikutan puasa ramadhan tidak?

sebelum memutuskan apakah pasien bisa puasa/ tidak, kita sebaiknya identifikasi risiko pasien terlebih dahulu. Risiko dari komplikasi DM : Hipoglikemia, Hiperglikemia, Ketoasidosis Diabetik, Dehidrasi dan Trombosis.

Risiko SANGAT TINGGI pada pasien :

  • Hipoglikemi berat dalam 3 bulan terakhir menjelang Ramadan.
  • Riwayat hipoglikemi yang berulang.
  • Hipoglikemi yang tidak disadari (unawareness hypoglycemia).
  • Kendali glikemi buruk yang berlanjut.
  • DM tipe 1.
  • Sakit (illness) akut.
  • Koma hiperglikemi hiperosmoler dalam 3 bulan terakhir menjelang Ramadan.
  • Menjalankan pekerjaan fisik yang berat.
  • Hamil.
  • Dialisis kronik.

Risiko TINGGI pada pasien :

  • Hiperglikemi sedang (rerata glukosa darah 150–300 mg/dL atau HbA1c 7,5–
    9%).
  • Insufisiensi ginjal.
  • Komplikasi makrovaskuler yang lanjut.
  • Hidup “sendiri” dan mendapat terapi insulin atau insulin sulfonilurea.
  • Adanya penyakit yang menyertai (comorbid) yang menambah risiko.
  • Usia lanjut dengan ill health.
  • Pengobatan yang dapat mengganggu mentation.

Risiko SEDANG pada pasien :

  • Diabetes terkendali dengan glinid (short-acting insulin secretagogue)

Risiko RENDAH pada pasien :

  • Diabetes “sehat” dengan glikemi yang terkendali melalui; terapi gaya hidup, metformin, acarbose, thiazolidinedione, penghambat enzim DPP-4.

Hal yang harus diperhatikan :

Individualisasi. Harus disadari bahwa perawatan kesehatan terutama perawatan diabetes harus mengedepankan individualisasi. Yaitu perencanaan
pengelolaan yang berbeda pada setiap individu


Pemantauan glikemi. Kemampuan pasien dan ketersediaan alat untuk
memantau kadar glukosa darahnya
sendiri tiap beberapa kali sehari sangatlah
penting. Hal ini terutama penting untuk pasien DM tipe 1 dan DM tipe 2 yang
menggunakan insulin.


Nutrisi. Saran diet sebaiknya disesuaikan dengan keadaan klinis serta kebutuhan khas tiap individu. Pengaturan makanan bertujuan mempertahankan masa tubuh yang konstan. Diet yang dianjurkan adalah makanan yang mengandung karbohidrat kompleks yang dikonsumsi sedekat mungkin dengan subuh. Minum air yang banyak juga sangat dianjurkan di saat boleh makan/minum. Dari berbagai studi, sekitar 50–60% pasien dapat mempertahankan berat badan selama Ramadan, sedangkan sekitar 20–25% mengalami peningkatan atau penurunan berat badan.


Aktivitas jasmani. Aktivitas jasmani yang normal mungkin dapat dipertahankan. Sebaliknya, aktivitas jasmani yang berlebih sebaiknya dihindari
karena dapat meningkatkan risiko hipoglikemi. Bagi sebagian pasien ada yang
tetap menjalankan program aktivitas jasmani yang biasa dilakukan sesudah buka puasa. Namun pada pasien DM tipe 1 yang tidak terkendali, aktivitas jasmani malah dapat menyebabkan hiperglikemi berat.

Menghentikan puasa. Pasien harus memahami bahwa puasa harus segera dihentikan bila:

  • Terjadi hipoglikemi (glukosa darah <60 mg/dL), karena kadar glukosa darah akan terus turun bila tidak segera diterapi.
  • Kadar glikemi beberapa jam sesudah puasa dimulai <70 mg/dL. Penghentian tersebut terutama bila pasien mendapat terapi insulin, atau sulfomilurea dan glinid.
  • Kadar glukosa >300 mg/dL.
  • Pasien sakit

*Panduan pemberian obat

*Obat penting DM yang selalu sedia di FKTP : Metformin dan SU. Mohon perhatian dosis dan waktu pemberiannya..

Sumber :

Hifema (H21.0)

Kompetensi DU/GP = 3A

Hifema adalah akumulasi dari darah pada bilik mata depan (COA).

Penyebab

-Trauma

-Post tindakan pembedahan intraokular

-spontaneously (conditions such as rubeosis iridis, juvenile xanthogranuloma, iris melanoma, myotonic dystrophy, keratouveitis)

-Penyakit sistemik (leukemia, hemophilia, von Willebrand disease)

-Penggunaan obat2 antikoagulan

Grading

Grade 0: No visible layering, but red blood cells within the anterior chamber (microhyphema)

Grade I: Layered blood occupying less than one third of the anterior chamber (<1/3 COA)

Grade II: Blood filling one third to one half of the anterior chamber (1/3-1/2 COA)

Grade III: Layered blood filling one half to less than total of the anterior chamber (>1/2 but not full COA)

Grade IV: Total filling of the anterior chamber with blood

sumber

Pada grade 1 dan 2 angka kejadian peningkatan tekanan intaokular 13,5%. Pada grade 3 peningkatan TIO 27%, Pada grade 4 peningkatan TIO 52%. –> 2nd glaucoma.. –> Tx medical agent menurunkan TIO, agent for avoid secondary bleeding, surgical –> aspirasi hifema.

Anamnesis :

-Nyeri pada mata

-ketajaman mata menurus, jika hifema menutupi aksis visual

-Fotophobia

-Faktor risiko berdasar penyebab

Pemeriksaan Fisik

-Visus

-Pemeriksaan mata anterior (darah pada bilik mata depan?, lesi2 lainnya?)

-Pemeriksaan tekanan intraokular dengan Tonometer Schiotz

Tatalaksana

Penanganan awal 👍

-gunakan eyeshield

-batasi aktivitas

-elevasi kepala 45′

-Jika nyeri hindari penggunaan aspirin/ NSAID yang memicu risiko perdarahan

Komplikasi hifema antara lain:

  1. Perdarahan ulang (rebleeding), umumnya terjadi antara 2-5 hari
    setelah trauma
  2. Glaukoma sekunder
  3. Atrofi saraf optik
  4. Corneal blood staining

*SEMUA pasien yang didiagnosis dengan hifema perlu dirujuk ke dokter
spesialis mata

Sumber :

Hyphema – EyeWiki (aao.org)

KMK 514 tahun 2015 PPK Dokter di FKTP

Erosi Kornea (H.18)

Erosi kornea ialah defek epitel pada kornea.

5 lapis kornea : epitel, basement membrane, stroma, descement membrane, endotelial.

penyebab erosi kornea:

  1. Trauma mekanis (penggunaan contact lense, corpus alienum, dsb)
  2. Terpapar/ Eksposure (ex : lagophtalmus, Kelopak mata tidak dapat menutup dengan sempurna sehingga kornea kering terpapar udara luar)
  3. UV
  4. Penurunan produksi air mata
  5. Defisiensi limbal stem cell
  6. Infeksi
  7. Penyalahgunaan topikal anestesi
  8. Neurotrophic keratopathy 

Anamnesis

  • Sensasi mata terasa mengganjal
  • Mata merah, nyeri, dan berair
  • Penglihatan buram
  • sensitif terhadap cahaya

Pemeriksaan Fisik

  • Visus
  • Pemeriksaan mata segmen anterior, (jangan lupa eversi palpebra superior apakah ada corpu alienum?–> jika ada ekstraksi dengan cotton bud)
  • Flouresence test positif–> perubahan warna kuning/hijau dengan sinar cobalt blue, menunjukkan adanya defek epitel kornea

Terapi

Kompetensi DU ialah 2 -mendiagnosis dan merujuk- (SKDI, 2013).

Jadi bagaimana penanganan awal sebelum dirujuk ke TS Sp.M?

Berikan salep antibiotik pada mata dan bebat kassa. KIE tidak menggunakan contact lense dahulu.

Beri antinyeri (kalau perlu)

Komplikasi

  • kornea keruh + scarrs
  • Keratitis
  • Penurunan visus

*Contoh sikatrik (bekas luka ) pada kornea.. fl test –> negatif

Sumber

Corneal Abrasion and Erosion – American Academy of Ophthalmology (aao.org)

Recurrent Corneal Erosion – EyeWiki (aao.org)

Epilasi/ Pencabutan Bulu Mata (4A)

Pada kasus apa kita melakukan pencabutan bulu mata?

saat menemukan pasien dengan entropion/trikiasis/ akan melakukan prosedur pembedahan pada mata.

Alat dan Bahan

  1. Anastesi topikal
  2. Pinset epilasi
  3. Lup/ binocular 3-5 Dioptri
  4. Penlight atau senter
  5. Kasa

Teknik Tindakan

  1. Siapkan alat dan bahan.
  2. Jelaskan kepada pasien jenis dan prosedur pemeriksaan yang dilakukan dan informasikan bahwa prosedur ini akan menyebabkan nyeri.
  3. Mencuci tangan.
  4. Minta pasien berbaring terlentang di meja periksa. Posisi pemeriksa berada di bagian kepala pasien. Posisikan pasien senyaman mungkin dengan penyangga di kepala pasien.
  5. Minta perawat untuk memegang senter atau penlight.
  6. Aplikasikan anastesi topikal pada mata yang akan dilakukan tindakan.
  7. Dengan menggunakan loupe, identifikasi bulu mata yang perlu dicabut.
  8. Untuk pencabutan bulu mata bagian bawah: a. Minta pasien untuk melihat ke atas dan fiksasi pandangannya. Minimalkan gerakan pasien. b. Dengan jari telunjuk, tarik ke bawah kelopak mata bagian bawah.
  9. Untuk pencabutan bulu mata bagian atas: a. Minta pasien untuk melihat ke bawah dan fiksasi pandangannya. Minimalkan gerakan pasien. b. Dengan ibu jari, dorong ke atas kelopak mata bagian atas.
  10. Dengan pinset yang dipegang tangan yang lain, jepit bulu mata yang akan dicabut kemudian tarik secara perlahan ke arah depan.
  11. Ulangi sampai seluruh bulu mata yang diinginkan tercabut.
  12. Antara setiap epilasi, usap bulu mata dengan menggunakan kassa.
  13. Yakinkan pasien bahwa semua bulu mata sudah tercabut. Sarankan pasien untuk tidak menggosok mata.
  14. Cuci tangan setelah melakukan tindakan.

Sumber :

kmk 514 thn 2015

Kencing Anyang-Anyangan

Kencing anyang-anyangan atau dalam bahasa medis disebut disuria merupakan sebuah sensasi nyeri/tidak nyaman/ terasa panas / tidak puas setelah berkemih/ kencing.

Hal ini dapat disebabkan adanya infeksi pada saluran kemih (ISK).

ISK ialah kondisi ditemukannya mikroorganisme di dalam urin.

Mikroorganisme penyebab tersering ISK ; E. coli, P. aeruginosa, S. aureus, S. fecalis, enterococcus, dll

Berikut ini beberapa pencetus ISK :

  • Batu saluran kemih
  • Sumbatan pada saluran kemih
  • Penyakit ginjal polikistik
  • DM setelah transplantasi ginjal
  • Senggama
  • kehamilan dan peserta KB dengan tablet progesteron
  • Menggunakan kateter urin

Berikut ini pola hidup untuk mencegah/ mengurangi gejala kencing anyang-anyangan :

  1. Cukupi kebutuhan minum air putih 1,5-2 Liter/ hari
  2. Biasakan tidak menunda-nunda kencing
  3. Jaga kebersihan saat berkemih. Biasakan arah air untuk membersihkan kemaluan dari alat kelamin ke dubur.
sumber gambar

Saat Anda kencing/ berkemih coba amati warna air kencing. Dari warna air kencing Anda dapat menentukan apakah kebutuhan air putih Anda sudah tercukupi atau belum? atau apakah berlebih? (kategori terhidrasi baik jika warna air kencing sesuai kotak nomor 2 dan 3 dari atas)

Konsultasikan ke dokter jika keluhan tidak membaik, atau jika anyang-anyangan disertai perubahan pada warna urin (merah/putih seperti susu dll) atau disertai demam.

Endoftalmitis (H44)

DEFINISI

Peradangan pada cairan dan jaringan intraokular.

PENYEBAB

a. Endogen : Bacterial or fungal endogenous chorioretinitis +/- vitritis

b. Eksogen : Setelah tindakan pada mata (Acute Postoperative,Chronic Postoperative,Filtering Bleb-Associated, After Intravitreal Injections), trauma open globe injury, Ulkus kornea

ESCRS, 2013

ANAMNESIS

-nyeri (74%)

-mata merah (82.1%)

-penurunan tajam penglihatan (94.3%)

-kelopak mata bengkak (34.5%)

-adanya sekret putih/kuning pada mata

-Riwayat trauma? kelilipan?

-Riwayat prosedur pembedahan/tindakan pada mata?

PEMERIKSAAN

  • penurunan visus (LP 26% )
  • Anterior chamber : edem palpebra, hiperemis conjungtiva, kemosis, edem kornea, hipopion (85% ), ulkus kornea, media keruh (79%),
  • USG
  • Kultur + Uji sensitivitas

TATA LAKSANA

*Terapi bergantung pada derajat keparahan endoftalmitis

  • Vitrektomi
  • Injeksi antibiotik intravitreal
  • Antibiotik sistemik (Systemic ceftazidime, cefazolin, ciprofloxacin, gatifloxacin3 and moxifloxacin have been shown to penetrate the blood ocular barrier efficiently.)
  • Kortikosteroid
  • Bagaimana jika di FKTP mendapati pasien dengan curiga endoftalmitis (Kompetensi :2) ?
    Segera diagnosis dan rujuk pasien ke Sp.M (utamanya supspesialis Vitreoretina) karena endoftalmitis ini sight threatening. Tata laksana awal yang dapat diberikan ? bersihkan sekret, beri tetes antibiotik topikal + bebat kassa (tidak perlu ditekan) , beri antibiotik oral sistemik (ciprofloxacin ada ya di FKTP 😉 ), beri analgetik oral jika pasien nyeri, lalu as soon as possible pasien rujuk ke Sp.M. Endoftalmitis memang tidak life threatening namun semakin kita menunda terapi ke Sp.M prognosis penglihatan pasien bisa semakin buruk serta risiko infeksi yang semakin luas.

Sumber :

Endophthalmitis – EyeWiki

Ujud Kelainan Kulit (UKK)/ Efloresensi

  • Makula : PERUBAHAN WARNA KULIT yang tegas dan tanpa peninggian/ DATAR, ukuran diameter < 1 cm. Jika ukuran diameter > 1 cm disebut Patch.
  • Papula : Peninggian kulit dengan diameter < 1 cm. Jika papul bergabung dengan diameter > 1 cm dan permukaan datar disebut plakat.
  • Nodul : Papul yang besar , berbentuk kubah ukuran > 1 cm.
  • Vesikula :PENINGGIAN KULIT berbatas tegas berisi CAIRAN dengan ukuran < 1 cm. Jika ukuran > 1 cm disebut Bula.
  • Pustul : PENINGGIAN KULIT berbatas tegas berisi PUS.
  • Urtika : PENINGGIAN KULIT yang datar oleh karena EDEMA pada dermis bagian atas.
  • Skuama : serpih dari stratum korneum. Partikel epidermal dapat kering atau berminyak, tipis ataupun tebal dan dilapisi masa keratin.
  • Krusta: Pengeringan cairan tubuh bercampur epitel debris bakteri.
  • Erosi : Hilangnya lapisan epidermis kulit dan sembuh tanpa meninggalkan jaringan parut.
  • Ulkus : Diskontinyuitas jaringan pada dermis atau lebih dalam, sembuh dengan meninggalkan jaringan parut.
  • Eskoriasi : Hilangnya jaringan sampai pada stratum papilare
  • Fisura : Retakan kulit yang linier sepanjang epidermis atau sampai dermis.
  • Likenifikasi : Penebalan kulit disertai relief kulit yang makin jelas.
  • Purpura : Perubahan warna kulit karena perdarahan di kulit.
  • Ptekie : purpura dengan lesi pin-point.
  • Ekimosis : Purpura yang luas.

Sumber :

Assessment of rash in children – Differential diagnosis of symptoms | BMJ Best Practice

FK Unair&RSUD dr Soetomo, 2018. Atlas Penyakit Kulit dan Kelamin 2nd Ed. Surabaya. Airlangga University Press. (very recommended to read karena foto tiap penyakit sangat jelas, sangat aplikatif untuk praktek dokter sehari-hari, ingin beli ? DM @dokterkonsulen

Diare…

Diare adalah gangguan buang air besar dengan frekuensi > 3x/ hari dengan konsistensi feses yang lebih lunak atau cair. Umumnya diare merupakan gejala dari adanya infeksi di organ gastrointestinal (lambung-usus). Penyebab infeksi ini dapat berupa dari bakteri, virus, parasit. Penyebarannya dapat melalui makanan/ minuman yang sudah terkontaminasi, atau antar orang dengan higinitas yang buruk.

Diare bisa menjadi berbahaya jika menyebabkan kondisi kurang cairan / dehidrasi. Bahkan diare dapat merenggut nyawa/ menyebabkan kematian pada balita, pada orang dengan malnutrisi, dan gangguan imunitas.

Penanganan awal diare :

  • Cukupi kebutuhan cairan Anda, setiap diare segera minum air putih/ oralit. untuk ukuran orang dewasa tiap kali diare dapat minum 200 cc/ 1 gelas belimbing. * Cara membuat oralit : 1) siapkan tempat (teko dll) 2.) berikan garam 1/2 sendok teh + gula 8 sendok makan gula 3.) tambahkan air matang 1 L (5 gelas belimbing) ke dalam teko 4.) Aduk hingga semua terlarut.
  • Makanan/ Diet : hindari susu sapi, kopi, alkohol, minuman bergas (Soda),
  • Minum obat antidiare sederhana seperti atapulgit.

Jika keluhan diare semakin sering, mual muntah hebat, tidak bisa makan minum sama sekali, segera ke dokter sebelum tubuh Anda semakin kekurangan cairan ! 🙂

sumber :

Papdi, 2014. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta: Interna Publishing.

WHO | Diarrhoea

Konstipasi…

Konstipasi adalah gangguan buang air besar dapat berupa berkurangnya frekuensi (BAB< 3X/ Minggu, atau lebih dari 3 hari tidak BAB), rasa tidak puas buang air besar, perlu usaha ekstra untuk mengejan, atau feses yang terlalu keras.

Berikut ini beberapa kemungkinan penyebab konstipasi :

-Diet / makanan harian kurang serat, kebiasaan BAB tidak teratur (Sering menunda-nunda BAB), kurang olah raga.

-Obat yang dapat memicu konstipasi : antikolinergik, penyekat kalsium, alumunium hidroksida, suplemen besi dan kalsium, opiat (kodein, morfin)

-kelainan organik di usus besar misal adanya tumor

-Penyakit sistemik : Hipotiroid, diabetes mellitus, gagal ginjal kronik

-Penyakit di bagian saraf contoh hirschprung disease, lesi medula spinalis, neuropati otonom

-Gangguan otot dasar pelvis

-Gangguan fungsional (umumnya disebabkan faktor psikologis) : Irritable bowel syndrom.

Jika anda sudah modifikasi gaya hidup sehat dengan konsumsi sayuran buah setiap hari, olah raga rutin dan tidak menunda-nunda BAB namun keluhan konstipasi masih menetap , konsultasikan ke dokter secara langsung 🙂

Sumber :

PAPDI, 2014. Buku AJar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta: Interna Publishing.

BAB Berdarah…

Mungkin dalam seumur hidup Anda pernah mengalami BAB (Buang Air Besar) berdarah. Lalu apa kemungkinan penyebab dari BAB berdarah ?

-BAB berwarna hitam seperti petis/aspal = kemungkinan telah terjadi perdarahan di saluran cerna bagian atas , misal di lambung, korongkongan, dll.
-BAB berwarna merah gelap /merah maroon = kemungkinan telah terjadi perdarahan di saluran cerna bagian bawah misal di usus besar.
– BAB dengan darah menetes = kemungkinan ada area yg luka di anus Anda, misal adanya ambeien/wasir.

Kapan kita perlu waspada dan segera memeriksakan ke dokter?
Jika disertai anemia / kadar hemoglobin di bawah normal. Gejala Anemia 5 L (letih, lesu, lemah, lelah, lalai), selain anemia juga waspada jika ada penurunan berat badan yang signifikan > 10%.