Diare…

Diare adalah gangguan buang air besar dengan frekuensi > 3x/ hari dengan konsistensi feses yang lebih lunak atau cair. Umumnya diare merupakan gejala dari adanya infeksi di organ gastrointestinal (lambung-usus). Penyebab infeksi ini dapat berupa dari bakteri, virus, parasit. Penyebarannya dapat melalui makanan/ minuman yang sudah terkontaminasi, atau antar orang dengan higinitas yang buruk.

Diare bisa menjadi berbahaya jika menyebabkan kondisi kurang cairan / dehidrasi. Bahkan diare dapat merenggut nyawa/ menyebabkan kematian pada balita, pada orang dengan malnutrisi, dan gangguan imunitas.

Penanganan awal diare :

  • Cukupi kebutuhan cairan Anda, setiap diare segera minum air putih/ oralit. untuk ukuran orang dewasa tiap kali diare dapat minum 200 cc/ 1 gelas belimbing. * Cara membuat oralit : 1) siapkan tempat (teko dll) 2.) berikan garam 1/2 sendok teh + gula 8 sendok makan gula 3.) tambahkan air matang 1 L (5 gelas belimbing) ke dalam teko 4.) Aduk hingga semua terlarut.
  • Makanan/ Diet : hindari susu sapi, kopi, alkohol, minuman bergas (Soda),
  • Minum obat antidiare sederhana seperti atapulgit.

Jika keluhan diare semakin sering, mual muntah hebat, tidak bisa makan minum sama sekali, segera ke dokter sebelum tubuh Anda semakin kekurangan cairan ! 🙂

sumber :

Papdi, 2014. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta: Interna Publishing.

WHO | Diarrhoea

Konstipasi…

Konstipasi adalah gangguan buang air besar dapat berupa berkurangnya frekuensi (BAB< 3X/ Minggu, atau lebih dari 3 hari tidak BAB), rasa tidak puas buang air besar, perlu usaha ekstra untuk mengejan, atau feses yang terlalu keras.

Berikut ini beberapa kemungkinan penyebab konstipasi :

-Diet / makanan harian kurang serat, kebiasaan BAB tidak teratur (Sering menunda-nunda BAB), kurang olah raga.

-Obat yang dapat memicu konstipasi : antikolinergik, penyekat kalsium, alumunium hidroksida, suplemen besi dan kalsium, opiat (kodein, morfin)

-kelainan organik di usus besar misal adanya tumor

-Penyakit sistemik : Hipotiroid, diabetes mellitus, gagal ginjal kronik

-Penyakit di bagian saraf contoh hirschprung disease, lesi medula spinalis, neuropati otonom

-Gangguan otot dasar pelvis

-Gangguan fungsional (umumnya disebabkan faktor psikologis) : Irritable bowel syndrom.

Jika anda sudah modifikasi gaya hidup sehat dengan konsumsi sayuran buah setiap hari, olah raga rutin dan tidak menunda-nunda BAB namun keluhan konstipasi masih menetap , konsultasikan ke dokter secara langsung 🙂

Sumber :

PAPDI, 2014. Buku AJar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta: Interna Publishing.

BAB Berdarah…

Mungkin dalam seumur hidup Anda pernah mengalami BAB (Buang Air Besar) berdarah. Lalu apa kemungkinan penyebab dari BAB berdarah ?

-BAB berwarna hitam seperti petis/aspal = kemungkinan telah terjadi perdarahan di saluran cerna bagian atas , misal di lambung, korongkongan, dll.
-BAB berwarna merah gelap /merah maroon = kemungkinan telah terjadi perdarahan di saluran cerna bagian bawah misal di usus besar.
– BAB dengan darah menetes = kemungkinan ada area yg luka di anus Anda, misal adanya ambeien/wasir.

Kapan kita perlu waspada dan segera memeriksakan ke dokter?
Jika disertai anemia / kadar hemoglobin di bawah normal. Gejala Anemia 5 L (letih, lesu, lemah, lelah, lalai), selain anemia juga waspada jika ada penurunan berat badan yang signifikan > 10%.

Ambeien atau Wasir

sumber : hemorrhoid – Bing

Ambeien/Wasir atau dalam bahasa kedokteran disebut Hemoroid adalah pelebaran dan peradangan pembuluh darah vena di daerah anus.

Keluhan :

susah buang air besar, dubur terasa nyeri atau panas, ada benjolan di anus, buang air besar dengan darah merah menetes.

Terapi non obat :

-Makan buah sayur setiap hari

-Perbaiki posisi buang air besar (dengan cara jongkok, saat posisi jongkok sudut anorektal lurus sehingga lebih mudah untuk mengeluarkan feses)

-Rendam anus dalam air 10-15 menit, 2-4x/hari untuk membersihakan sisa-sisa tinja yang lengket.

-Cukupi kebutuhan air putih harian (30-40mL/kgBB/Hari)

-Usahakan banyak bergerak, banyak berjalan. Hindari banyak duduk/ tidur.

*Jika keluhan masih tidak membaik, silakan konsultasikan ke dokter untuk mendapatkan terapi obat atau tindakan pembedahan jika perlu.

Sumber :

PAPDI, 2014. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam . Jakarta: Interna Publishing.

Apakah saya bisa vaksin COVID 19?

Kelompok yang TIDAK LAYAK mendapat vaksin COVID 19, secara umum dibagi berdasar 2 kelompok usia.

  1. Jika Anda berusia 18-59 tahun , dengan kondisi ; a.) riwayat alergi berat (sesak, pingsan/ tidak sadar diri) akibat vaksin covid 19 dosis pertama/ akibat komponen vaksin COVID 19, b.)dalam kondisi infeksi akut (sedang dalam kondisi sakit misal, batuk pilek demam diare, atau baru dalam pengobatan TB. Tunggu hingga 2 minggu obat TB dikonsumsi. c) Orang dengan immunodefisiensi primer (gangguan kekebalan tubuh bersifaat bawaan )
  2. Jika Anda berusia > 59 tahun dengan nilai RAPUH >2 artinya TIDAK LAYAK untuk divaksin.
  • Resistensi : Apakah Anda kesulitan naik 10 tangga ? jika IYA =1, TIDAK =0
  • Aktivitas : seberapa sering Anda merasa kelelahan ? Jika sepanjang waktu/sebagian besar waktu =1
  • Penyakit lebih dari 4, ( hipertensi, diabetes, kanker (selain kanker kulit kecil), penyakit paru kronis, serangan jantung, gagal jantung kongestif, nyeri dada, asma, nyeri sendi, stroke dan penyakit ginjal) jika minimal ada 5 dari 11 penyakit, nilai = 1
  • Usaha berjalan : Apakah sulit berjalan 100-200 meter? jika IYA = 1, Jika TIDAK =0
  • Hilangnya berat badan , bila turun berat badan >5% dalam setahun nilai = 1

Jika tidak yakin dengan kondisi Anda, maka konsultasikan dnegan dokter yang merawat untuk meminta surat rekomendasi kelayakan Vaksinasi COVID 19.

Bagi penyintas COVID 19, LAYAK dilakukan vaksinasi apabila sudah sembuh minimal 3 bulan.

Sumber :

Rekomendasi PAPDI tentang Pemberian Vaksinasi COVID-19 pada Pasien dengan Penyakit Penyerta/ Komorbid (Revisi 18 Maret 2021)

Kaki Diabetes

Tulisan untuk awam

contoh kaki diabetes / charcot foot (sumber :The Charcot Foot in Diabetes | Diabetes Care (diabetesjournals.org))

Sebanyak 40-60 juta orang diabetes secara global, terkena kaki diabetes dan komplikasi ekstremitas bawah. International Diabetes Federation – Diabetic Foot (idf.org)

Penyakit kaki di sini dapat berupa infeksi, ulserasi, dan kerusakan jaringan kaki.0,03%- 1,5% pasien kaki diabetes diamputasi. Tentunya hal ini dapat mempengaruhi kualitas hidup, kegiatan sosial, dan mata pencaharian mereka. (Diabetic foot | The BMJ)

(sumber gambar : charcot foot – Bing)

Bagaimana cara merawat kaki penyandang diabetes ? (Perkeni,2015)

  1. Selalu gunakan alas kaki, baik di tempat berpasir (misal teras rumah, pantai..) maupun berair (misal kamar mandi)
  2. Perhatikan kaki Anda setiap hari, catat/laporkan ke dokter Anda apabila mendapati kulit terkelupas, kemerahan, ataupun ada luka
  3. Periksa alas kaki dari benda asing sebelum menggunakan. Maksud benda asing di sini misal kerikil, batu, dll. Mengapa? karena seringnya pada penyandang sudah memiliki komplikasi neuropati yang ditandai dengan terasa tebal/ baal. Apabila kaki terkena sesuatu yang umumnya oleh orang dengan persarafan normal terasa nyeri/ panas/dingin dsb, pada penderita neuropati tidak dapat merasakan sensasi tersebut. Yang tidak disadari lalu disebutnya muncul luka secara ‘tiba-tiba’.
  4. Selalu menjaga kaki dalam keadaan bersih, tidak basah, dan mengoleskan krim pelembab pada kulit kaki yang kering.
  5. Potong kuku secara teratur. Misalnya setiap seminggu sekali.
  6. Keringkan kaki dan sela-sela jari selepas dari kamar mandi.
  7. Gunakan kaos kaki dari bahan katun yang tidak menyebabkan lipatan pada ujung-ujung jari kaki.
  8. Jika ada kalus atau mata ikan, tipiskan secara teratur.
  9. Jika bentuk kaki Anda tidak seperti orang pada umumnya, gunakanlah alas kaki khusus. (penggunaannya konsultasikan dengan dokter Anda terlebih dahulu)
  10. Gunakan sepatu yang ‘pas’. Tidak terlalu sempit dan tidak terlalu longgar. Jangan menggunakan high heels
  11. Hindari menggunakan bantal atau botol berisi air panas untuk menghangatkan kaki.. Mengapa? ingat proses neuropati pada panyandang DM.. telah terjadi penurunan respon sensori. Sehingga jika suhu terlalu panas pun, penyandang DM tidak akan merasakannya.

Diabetes Mellitus

Tulisan untuk awam

Orang dengan diabetes mellitus bertambah dari tahun ke tahun. . Menurut WHO pertambahan orang dengan diabetes di dunia sebanyak 108 juta di tahun 1980 menjadi 422 juta di tahun 2014.

Indonesia menempati posisi 7 di dunia jumlah penderita DM sebanyak 10,7 juta orang di tahun 2019 berdasar IDF.

Diabetes juga menjadi komorbid ke dua atau sebanyak 10,4% yang bertanggung jawab atas kematian pasien covid 19 di Indonesia. (Data diakses 1/12/2020 website covid 19 Indonesia)

Diabetes Mellitus atau yang biasa disebut kencing manis adalah penyakit yang ditandai dengan kadar gula darah melebihi batas normal.

Kadar gula darah di atas normal jika kadar gula darah acak ≥ 200 mg/dL atau kadar gula darah puasa ≥ 126 mg/dL atau apabila kadar HbA1C ≥ 6,5%

Mengapa kadar gula darah bisa melebihi batas normal? hal ini disebabkan berkurangnya produksi dari hormon insulin (hormon yang mengatur gula darah) dan ketidakefektifan sel-sel tubuh memasukkan gula ke sel (resistensi insulin).

Diabetes Mellitus dapat terjadi pada siapapun.. dari anak kecil hingga dewasa, ibu hamil pun juga bisa..

Diabetes Mellitus (DM) di bagi menjadi 4

DM tipe 1 = Dikarenakan kerusakan sel beta pankreas (produsen hormon insulin) sehingga pada pasien dengan DM tipe 1 ini absolut butuh suntik insulin seumur hidupnya. Penyebabnya bisa dari autoimun dan idiopatik (penyebabnya belum diketahui)

DM tipe 2 = Dikarenakan kombinasi dari berkurangnya produksi hormon insulin dan terjadinya resistensi insulin.

DM tipe lain = Dikarenakan penyakit lain , misal karena infeksi, kelainan genetik.

DM gestasional = DM yang terjadi pada kehamilan. Bisa ditandai dengan berat janin yang besar, lebih dari 4000 gram.

Pada tulisan ini yang saya bahas ialah DM tipe 2.

Lalu bagaimana keluhan klasik DM ?

  1. Mudah lapar (Polifagi)
  2. Mudah haus (Polidipsi)
  3. Sering kencing (Poliuri)
  4. Penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas

keluhan lainnya : mulai terasa baal/kesemutan di tangan / kaki (neuropati), mata buram, gatal di vulvavagina, luka yang tidak kunjung sembuh.

Bagaimana mengendalikan Diabetes Mellitus ?

1 Edukasi

Para panayndang DM dipahamkan mengenai gaya hidup sehat, serba serbi penyakitnya, komplikasi serta penanganannya, dsb.

2 Nutrisi

Seimbangkan nutrisi, pastikan asupan karbohidrat, protein, lemak sudah sesuai, serta tingkatkan makanan berserat seperti buah dan sayuran. Batasi konsumsi gula dan garam . Jika perlu minum-minuman tawar saja, tanpa gula. Minum air putih 1,5-2 L/ hari atau 8-10 gelas / hari.

Apakah makanan yang selama ini saya konsumsi perlu diubah?

cara menjawabnya cukup mudah..

Hitunglah Indeks Masa Tubuh (IMT) Anda.. Bagaimana caranya?

IMT= Berat Badan (dalam Kg) : (Tinggi Badan (dalam m)2 (dikuadratkan)

Contoh kasus, misalnya

Ani memiliki berat badan 60 Kg dan tinggi badan 160 cm.. Apakah berat badan Ani sudah sesuai? atau Ani perlu diet?

Jawabannya :

Hitung terlebih dahulu IMT Ani..

IMT Ani = BB Ani (Kg)/ TB Ani m2

Sebelum masuk ke rumus, Ubah terlebih dahulu Tinggi Badan Ani dari satuan centimeter ke satuan meter. TB Ani = 160 cm = 1,6 m

IMT Ani = 60 Kg/ (1,6 m)2

IMT Ani = 60 Kg/ 2,56 m2

IMT Ani = 23,43 Kg/m2

Jika hasilnya :

IMT < 18,5 Kg/m2 –> artinya Berat Badan Anda kurang

IMT =18,5-22,9 Kg/m2 –> artinya Berat Badan Anda sudah sesuai/normal

IMT ≥ 23,0 Kg/m2 –> artinya Berat Badan Anda lebih

Lalu kapan seseorang disebut obesitas ?

Jika IMT 25,0-29,9 Kg/m2 –> Obesitas derajat 1

Jika IMT ≥30 Kg/m2 –> Obesitas derajat 2

3 Aktivitas fisik

Aktivitas fisik yang dianjurkan ialah dengan intensitas sedang dilakukan 3-5x/minggu durasi total 150 menit/ minggu.. Baiknya olah raga yang bersifat aerobik misal jalan cepat, jogging, senam, bersepeda santai. Namun jika Anda memiliki penyakit pada tulang/ persendian misalnya osteoartritis maka jenis olah raga bisa disesuaikan lagi misal dengan berenang, dsb

4 farmakoterapi / Obat

Obat Diabetes ini secara umum dibagi dua yaitu obat minum (oral) dan obat suntik.

Contoh obat minum : metformin, glimipirid, acarbose, pioglitazon dsb

Contoh obat suntik : insulin

Penggunaan obat ini disesuaikan dengan masing-masing pasien.

Semisal kadar GDA awal sama, bisa saja obatnya berbeda karena setiap orang bisa memiliki kondisi yang berbeda. Semisal kondisi A, DM dan sudah diikuti penurunan fungsi ginjal, kondisi B DM tanpa komplikasi, kondisi C DM dengan penyakit asam lambung/ gastritis, kondisi si D DM dengan TBC.. Konsultasikan obat yang Anda konsumsi dengan dokter.

5 Monitoring

Monitor gula darah puasa , gula darah 2 jam setelah makan, dan HbA1C..

Seberapa sering? selama masih belum terkontrol baik gula darahnya lakukan pengecekan gula darah setiap hari. Jika Sudah terkontrol Anda bisa melakukan cek gula darah puasa/ acak setiap bulan.

Lalu kapan mengukur HbA1C? Setiap 3 bulan.

Apa itu HbA1C? Gula yang terikat di Hemoglobin selama 3 bulan terakhir..

Ingat berapa umur sel darah merah?

Apa saja target yang harus dikontrol dari penderita DM ?

Tabel Sasaran Pengendalian DM (Perkeni,2015)

Sumber :

WHO

Perkeni 2015