Dalam kehidupan sehari-hari dalam berpraktek sebagai dokter utamanya di IGD tentu kita sering melakukan permintaan pemeriksaan rontgen thorax. Interpretasi rontgen thoraks merupakan kompetensi 4A bagi dokter umum.
Berikut ini ringkasan singkat cara baca rontgen thorax :
Alat dan Bahan
siapkan contoh film rontgen thorax
lightbox
Teknik pemeriksaan
Redupkan cahaya ruangan
Pasang Film pada lightbox
Film lama / sebelumnya diperlukan untuk membandingkan dengan hasil film terbaru
Cek identitas nama, tanggal pemeriksaan, dan diagnosis pasien
Identifikasi jenis film : AP/PA/Supine/Erect/Lateral
Nilai kualitas film
Nilai adanya tube atau kabel yang terpasang pada pasien
Nilai jaringan lunak dan tulang a. Leher, supraclavicula, axilla, dinding dada, payudara, abdomen, dan udara lambung b. Humerus, regio glenohumeral, scapula, clavicula, vertebrae, costae, dan sternum
Mediastinum a. Nilai bagian atas, tengah, dan bawah anterior/ medial/ posterior b. Nilai ukuran, bentuk, dan densitasnya
Jantung a. Ukuran : hitung CTR (evaluasi AP/PA, elevasi diafragma saat inspirasi, adanya massa) b. Bentuk : Atrium, Ventrikel c. Siluet
Diafragma : nilai ukuran dan sudut costophrenicus
Nilai pleura dan fisura
Paru : nilai trakea dan bronki, hilum, pembuluh darah, parenkima, apeks, bagian di belakang jantung.
Interpretasi 1. Kualitas film Pada film yang baik dapat terlihat 10 costae posterior, 6 costae anterior dan vertebrae thoracal Clavicula sejajar dan sternum tepat berada di tengahnya. 2. Diafragma Normalnya garis diafragma tajam, hemidiafragma kanan sedikit lebih tinggi dibandingkan kiri, Udara bebas di bawah garis diafragma –> tanda peritonitis tenting –> fibrosis paru elevasi berlebihan –> hepatomegali/splenomegali 3. Sudut Costophrenicus sudut tajam –> normal sudut tumpul –> efusi pleura 4. Hilus Pembesaran hilus unilateral dapat disebabkan oleh infeksi (TB, viral, bakteri), tumor dan vaskular (aneurisma atau stenosis arteri pulmonal) Pembesaran hilus bilateral dapat disebabkan oleh sarkaidosis, infeksi, tumor, hipertensi arteri pulmonal. 5. Mediastium 6. CTR (Cardio Thoracic Ratio) rumus CTR = (a+b)/(c+d) nilai normal CTR <= 50% 7. Kelainan ukuran jantung Kelainan kontur jantung dapat disebabkan oleh atrial atau ventrikular septal defect, atau efusi pericardial, atau aneurisma. Kontur jantung yang tidak jelasatau hilang batasnya dapat disebabkan oleh penyakit paru disekitar jantung. 8. Paru Abnormalitas : a. Konsolidasi – Akut : pneumonia, aspirasi, infark, edem -Kronik: limfoma, pneumonia, sarkoidosis -Batwing: edema, pneumonia bakterialis, PCP (Pneumonia Pneumocystis), pneumonia viral b. Atelektasis -Resorpsi : mukus, tumor, benda asing -Relaksasi: efusi pleura, pneumothorax c. Nodul-Massa – Nodul < 3cm : granuloma, Ca Paru, metastasis, hemartoma -Massa> 3 cm : Ca Paru, granuloma, hamartoma – Massa multiple: infeksi. metastasis, sarkoidosis, wegner
Cara hitung CTR = (a+b)/ (c+d)
Sumber :
IDI, 2017. Panduan Keterampilan Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Primer.
Katarak menjadi penyebab ke-2 gangguan penglihatan di dunia dengan prevalensi 25,8% . Katarak menjadi penyebab kebutaan terbanyak di dunia yaitu 34.47%.1
Penyebab kebutaan utama di Indonesia disebabkan oleh katarak, 77,7% kebutaan disebabkan katarak. Prevalensi kebutaan karena katarak pada penduduk di atas 50 tahun sebanyak 1,9%.1
Katarak menjadi tantangan tersendiri karena katarak merupakan kebutaan yang dapat ‘disembuhkan’.
Katarak merupakan sebuah kondisi kekeruhan pada lensa mata. 2
Patofisiologi2
-Kelainan bawaan
-Proses Penuaan
-Penyakit Sistemik
-Trauma
-Penyakit mata lainnya (misal uveitis )
Jeni Katarak Berdasarkan Penyebab2
Katarak kongenital
Katarak Senilis
Katarak Traumatika
Katarak sekunder/komplikata
Stadium Katarak2
Katarak insipien
Katarak Imatur
Katarak Matur
Katarak Hipermatur
Gejala katarak3
-Penurunan visus
-Silau
-myopic shift
-Diplopia monokuler
-Noda
Penatalaksanaan Katarak3
-ICCE (Intra Capsular Cataract Extraction)
merupakan tindakan mengeluarkan seluruh isi lensa bersama kapsul, indikasi kasus lensa subluksasio dan luksasio.
-ECCE (Extra Capsular Cataract Extraction)
merupakan tindakan pembedahan lensa katarak dilakukan pengeluaran isi lensa dengan merobek kapsul anterior sehingga masa lensa dan korteks dapat keluar melalui robekan. Penutupan luka umumnya menggunakan 5-7 jahitan sehingga ada risiko untuk astigmatisme. Tindakan ECCE ini untuk pasien dengan katarak matur.
-SICS (Small Incision Cataract Surgery)
Operasi katarak manual dengan luka yang lebih kecil dibanding ECCE. Umumnya tanpa jahitan, pun kalau ada diberika 1 jahitan sehingga risiko astigmatisme paska operasi lebih kecil. Gold Standard SICS diikuti dengan pemasangan IOL.
-Fakoemulsifikasi
Operasi katarak dengan mesin fakoemulsifikasi dengan irisan 2-3 mm sehingga tidak diberikan jahitan. Teknik ini beramanfaat pada katarak kongenital, katarak traumatika, dan katarak senilis.
Anjuran/Edukasi cara mencegah katarak :
Dengan menjalankan pola hidup sehat supaya tidak terjadi penyakit komorbid (hipertensi dan diabetes mellitus) jika sudah terjadi penyakit komorbid diupayakan minum obat sehingga terkontrol baik, dengan berhati-hati saat bekerja menggunakan kaca mata pelindung, dan menggunakan kaca mata hitam akan mengurangi paparan sinar UV ke mata.
Kapan katarak perlu dioperasi?3
Visus< 6/18
Kondisi lain, misal Glaukoma fakomorfik, glaukoma fakolitik, dislokasi lensa, anisometropia
Visualisasi fundus sulit karena terhalang katarak
Penurunan tajam penglihatan yang mengganggu aktivitas
Penatalaksanaan Katarak Dewasa3
Komplikasi yang bisa saja terjadi setelah operasi :
Sindrom mata kering –> paliatif nya dengan artificial tears/ tetes mata buatan
Iridodialisis
TASS
Endoftalmitis
Anjuran/Edukasi setelah operasi katarak ?
mata yang dioperasi tidak boleh terkena air hingga 2 minggu setelah operasi
Tidak melakukan aktivitas kerja berat/ ativitas yang ekstrem
Tidak sujud/ gerakan kepala berlebihan karena bisa mempengaruhi posisi lensa yang baru saja diganti.
Sediaan obat yang diberikan pada pasien dengan keluhan mata hampir pasti diberikan dalam bentuk tetes mata atau salep mata. Agar obat yang diberikan berpenetrasi baik dan mendapat efek yang optimal maka dokter harus bisa melakukan dan mengajari pasien cara memberikan sediaan obat tetes mata atau salep mata pada pasien.
Tujuan :
Aplikasi pemberian obat tetes mata
Aplikasi pemberian obat salep mata
Alat dan Bahan :
Meja periksa atau kursi periksa
Obat tetes mata atau salep mata
Kapas pembersih muka
Air hangat
Teknik Tindakan :
Siapkan alat dan bahan
Botol tetes mata/salep mata di;etakkan di suhu ruang (karena jika diletakkan dalam suhu yang dingin akan terasa tidak nyaman)
Jelaskan kepada pasien jenis dan prosedur pemeriksaan yang dilakukan
Cuci tangan, basahi kapan pembersih muka dengan air hangat. Bersihkan mata dengan arah dari dalam ke luar.
Minta pasien berbaring di meja pemeriksaan atau duduk di kursi periksa
Minta pasien untuk menangadahkan kepala. jangan sampai tutup aplikator menyentuh mata.
Dengan satu tangan, tarik kelopak bawah mata secara lembut, sehingga membentuk kantung. Arahkan ujung botol tetes mata/tube salep mata ke kantung kelopak bawah mata kearah forniks inferior dan teteskan/berikan salep sesuai aturan.
Hindari tip (ujung obat tetes mata) mengenai bulu mata/ kelopak mata/ bola mata. Posisi ujung botol tetes mata atau ujung obat salep mata kurang lebih 2 cm di atas kantung bawah kelopak mata.
Beri jeda 3-5 menit antara satu obat tetes mata ke obat tetes mata lain atau salep mata. Apabila pasien diberikan obat tetes mata dan salep mata maka yang diberikan obat tetes mata terlebih dahulu.
Ketika sudah selesai memberikan tetes mata/salep mata, segera tutup botol tetes mata/salep mata. Minta pasien memejamkan kembali mata secara perlahan (seperti tidur) selama 1-2 menit.
Cuci tangan setelah memberi obat tetes mata atau salep mata.
Irigasi dengan NaCl dan disinfeksi dengan betadine
Anestesi lokal dengan Lidocain di sebelah kanan (0,5-1cc) kiri (0,5-1cc) dan proksimal (1cc) kuku (tunggu 1-2 menit sampai pasien terasa ujung jari kebas/ kesemutan)
Pastikan pasien sudah tidak nyeri dengan mencubitkan pinset ke ujung jari pasien. (pasti masih terasa disentuh, namun tidak ada rasa nyeri)
Gunakan needle holder untuk ekstraksi kuku. Pastikan bersih sampai ke pangkal kuku. Gunakan kassa untuk mengusap darah, supaya visualisasi kuku jelas.
Bersihkan kembali dengan kassa dan betadin
Perban dengan salep gentamicin, sufratule dan kassa
Beri obat oral analgetik dan antibiotik jika perlu
KIE luka tidak boleh terkena air, kontrol 3 hari lagi. Perbanyak konsumsi protein. (umumnya luka kering 7 hari)
Pernahkah Anda mendapati secara tiba-tiba kulit badan Anda terasa gatal perih kemerahan hingga timbul plenting berisi cairan setelah terkena bahan cairan/kain/perhiasan yang baru pertama kali dipakai?
Misal : setelah mengenakan celana yang baru, bagian perut melingkar hingga pinggang timbul gatal dan plenting cairan? Atau muncul setelah tangan Anda terkena cairan kimia? atau Saat bermain kebun dan digigit tomcat timbul rasa gatal perih dan kemerahan di kulit?
Itu semua adalah bagian dari peradangan kulit yang disebabkan iritasi suatu bahan, bisa benda padat, cairan, dsb. Iritan yang umumnya dapat menyebabkan peradangan pada kulit seperti bahan cairan rumah tangga (pembersih, sabun), bahan kosmetik, dsb
Hal seperti ini dalam istilah kedokteran dikenal dengan Dermatitis Kontak Iritan.
Faktor yang mempengaruhi keparahan dermatitis kontak iritan ini ialah jumlah, konsentrasi bahan iritan, kondisi kulit (ketebalan, riwayat ada luka di kulit, riwayat atopik) serta kondisi lingkungan (suhu dan kelembaban).1
Bagaimana penanganan awal?
Hindari zat/benda pencetus (Jangan menggunakan lagi !)
Bersihkan dengan air mengalir.
Untuk obat beri salep steroid potensi ringan dahulu (seperti salep hidrokortison), serta beri obat antiradang, bisa menggunakan CTM, Loratadin, Cetirizine.2
Jika keluhan tidak membaik dalam 24 jam, atau timbul nanah, segera periksa ke dokter terdekat.
Semoga bermanfaat.
Terima kasih.
Sumber :
1 Litchman G, Nair PA, Atwater AR, et al. Contact Dermatitis. [Updated 2021 Sep 9]. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2021 Jan-. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK459230/
2Dep. Kesehatan Kulit&Kelamin RSUD dr Soetomo, 2018. Atlas Penyakit Kulit& Kelamin 2nd Ed. Surabaya: Airlangga University Press.
Keluhan pasien mata kiri buram setelah pemberian steroid (dexametason oral 4×0,5mg) 2 seri (dr TS bagian xxx) yang dilakukan dalam kurun waktu 2 bulan berturut-turut . Kemudian steroid dihentikan.
Sebetulnya …
Banyak obat yang dapat memicu terjadinya katarak. Kortikosteroid, (ex: prednisolone, cortisone), tranquilizers, radiomimetic drugs, quinoline, methotrexate, oral contraceptives, miotics, ergot, sulfanilamide, streptozotocin, methoxsalen, accutane, epinephrine psoralen, thiazide etc.1
Steroid dalam preparat apapun dapat memicu katarak. Sistemik maupun topikal. Topikal inhaler, salep, tetes mata juga dapat berkontribusi dalam pembentukan katarak.1 Hubungan pembentukan katarak dengan dosis dan jangka waktu pemberian steroid masih belum jelas meskipun paparan dosis yang lebih tinggi dan lama terapi yang lebih panjang dapat meningkatkan risiko. Kekeruhan lensa pada tahap awal dapat berkurang apabila steroid dihentikan meskipun beberapa masih tetap terjadi walaupun dosis steroid sudah dikurangi.2
Patofisiologinya memang sampai saat ini masih belum jelas. Namun terdapat beberapa teori seperti kortokosteroid dapat mempengaruhi ketidakseimbangan osmotik lensa, kerusakan oksidatif, dan gangguan pada growth factor lensa mata.1
Kekeruhan lensa akibat steroid dapat terjadi pada subkapsular posterior, serta subkapsular anterior. Di mana lebih mudah terjadi pada anak.2
Pada sebuah studi yang melakukan penelitian hubungan paparan steroid terhadap timbulnya katarak dan glaukoma, menunjukkan prevalensi 16,24 % terjadi katarak dan 3,92% glaukoma. Serta prevalensi tertinggi dose relationship response katarak (39,6%) dan glaukoma (42,8%) pada dosis 501-1000 mikrogram equivalen fluticasone propionate. 3
Menjadi perhatian kita dalam praktik sehari-hari melayani pasien.
Meskipun banyak yang mengatakan steroid obat dewa (?), kita perlu mempertimbangkan betul penggunaan steroid bagi pasien. Nilai risk and benefit ini harus dipertimbangkan.
Kalau memang harus banget kita berikan steroid untuk pasien dan jangka waktu lama, maka jangan lupa untuk menanyakan bagaimana kondisi mata pasien apakah ada keluhan buram, silau, dsb yang mengarah ke katarak atau mungkin juga apakah ada nyeri di mata, pusing yang mengarah ke glaukoma. Jika mulai ada keluhan dan pemeriksaan klinis mengarah ke dx mata sebaiknya kita rujuk ke Sp.M…
Sumber :
1Gupta VB, Rajagopala M, Ravishankar B. Etiopathogenesis of cataract: an appraisal. Indian J Ophthalmol. 2014;62(2):103-110. doi:10.4103/0301-4738.121141
2Kanski, 2016. Clinical Ophtalmology 8th Edition
3 Nath T, Roy SS, Kumar H, Agrawal R, Kumar S, Satsangi SK. Prevalence of Steroid-Induced Cataract and Glaucoma in Chronic Obstructive Pulmonary Disease Patients Attending a Tertiary Care Center in India. Asia Pac J Ophthalmol (Phila). 2017 Jan-Feb;6(1):28-32. doi: 10.22608/APO.201616. PMID: 28161921.
Diabetes mellitus bukan hal baru untuk kita dokter umum. Berdasarkan Riskesdas, prevalensi DM di Indonesia dari 6,9% tahun 2013 menjadi 8,5% tahun 2018.
Jangan heran di manapun kita praktek hampir pasti akan mendapati pasien DM dengan berbagai keluhan tentunya.
Yang perlu kita lakukan sebagai dokter bagaimana bisa memberikan tata laksana terbaik untuk pasien.
Kompetensi kita untuk tata laksana pasien DM tipe 2 ialah 4A.
Diabetes mellitus ialah kondisi tingginya kadar glukosa dalam darah yang diakibatkan karena tubuh tidak dapat memproduksi insulin, karena berkurangnya efektivitas reseptor insulin, atau dapat kombinasi kedua penyebab tersebut.
Diabetes mellitus berdasarkan PERKENI dibagi menjadi 4,
Diabetes Mellitus tipe 1, terjadi karena defisiensi absolut insulin atau sel b pankreas tidak dapat memproduksi insulin.
Diabetes Mellitus tipe 2, terjadi karena resistensi reseptor insulin yang kemudian dapat diikuti juga ketidakmampuan pankreas memproduksi insulin
Diabetes gestasional, Diabetes yang terjadi pada ibu hamil
Diabetes tipe lainnya, diabetes yang terjadi tanpa penyebab 3 diabetes di atas.
Penegakan diagnosis
Keluhan khas
Polifagia
Polidipsi
Poliuria
Penurunan berat badan tanpa sebab
Keluhan tidak khas
luka yang tidak kunjung sembuh
Tidak dapat ereksi
Keputihan vagina
Keluhan mata buram/ cekot-cekot -> (faktor risiko terjadi katarak, retinopati diabetes, glaukoma dsb)
Pemeriksaan yang dapat kita kerjakan di FKTP
Lakukan pemeriksaan gula darah acak –> jika hasil > 200mg/dL, langsung terapi DM.
bagaimana dok kalau pasien check up saja, kondisi tidak ada keluhan, GDA > 200mg/dL ? bisa ditanyakan riwayat gula darah sebelumnya berapa? kalau memang GDA> 200mg/dl bisa langsung diterapi obat antidiabetes oral di FKTP.
Kalau baru pertama kali ketahuan GDA >200 mg/dL bagaimana dok? saran saya, coba untuk KIE gaya hidup sehat dan minta datang lagi 1 minggu untuk cek GDA lagi. lebih bagus lagi kalau kita bisa cek GDP/G2PP, jika GDP >125mg/dL, GDA>200mg/dL langsung terapi DM.
First before everything, ketika kita diagnosis pasien DM , jangan berbicara seakan-akan sekarang DM besok mati pak/bu.. ga bangetlah itu.. komunikasi yang baik antara dokter dan pasien akan memberikan output yang baik… Ketika kita di tahap pendidikan kita bisa telan semua textbook, jurnal dsb, kita tau semua teori patfis, tata laksana DM. Saat ini kita harus aplikasikan ke pasien sebaik mungkin.. tolong dijaga mulutnya, tolong dijaga tutur katanya supaya tidak membuat pasien trauma dan tersakiti hatinya, kasih kesempatan pasien bertanya apa yang dia tidak paham. Bangun hubungan “i need you to take care and to cure yourself”, kita dokter membantu mengarahkan, kasih terapi yang kita bisa.. keseharian pasien, pola hidup pasien, kepatuhan minum obat, itu yang menentukan hasil gula darah. Jika gula darah terkontrol, kita bisa minimalisir komplikasi. Menekan angka kecacatan dan kematian.
Hal kecil yang impact nya besar.. awali dengan komunikasi yang baik ! kita pasti tidak nyaman berkomunikasi dengan orang yang bicaranya hanya melukai hati kita. i’d prefer go to another doctor 😐
5 Pilar terapi DM :
1.Edukasi –> jelaskan prognosis, gejala komplikasi akut (hipoglikemia, hiperglikemia) dan komplikasi kronis (Neuropati, nefropati, retinopati, PJK, Stroke, PAD dsb) yang mungkin bisa terjadi, penanganan awal yang bisa dilakukan.
3.Terapi nutrisi –> diet rendah gula, maks 2 sdm gula/hari, makanan karbohidrat dibatasi, atau pilih karbohidrat dengan indeks glikemik rendah (Contoh beras merah). Tetap makan dengan pembatasan jumlah, jadwal makan teratur bisa pasien dibuatkan jadwal. O6.00 –> sarapan, 09.00 –> snack pagi, 12.00 –> makan siang, 15.00 –> snack sore, 18.00 –> makan malam, 21.00–> snack malam … makan tetap harus dipenuhi karbohidrat, lauk pauk, sayur/buah upayakan piring model T (bukan tesla 😁). Hindari makan nambah-nambah. snack yang boleh? ubi sepotong, pisang kepok 1 biji, susu diabetas*l dsb roti pun bisa asal tidak banyak, separuh potong aja, semua boleh tapi dibatasi ya.
4.OAD (obat anti diabetes)
(teratur minum OAD) based on my experience treating DM patient, ini hasil saya evaluasi 2 jam setelah pasien minum obat, (setelah minum obat hanya boleh minum air putih)
Metformin 500 mg = penurunan gula darah 50-75 mg/dL
Glimipirid 2mg +metformin 500mg = penurunan gula darah 100-150mg/dL
Obat DM ini harus disesuaikan dengan pasien yang kita hadapi..
Karena individualisasi terapi itu secara tidak langsung akan meningkatkan kepatuhan pasien minum obat.
sangat penting untuk kita memahami setiap obat yang kita berikan untuk pasien, selalu mengevaluasi obat dan kondisi pasien saat ini.
Contoh sederhana: pasien DM dengan keluhan dispepsia, harus hati-hati ketika kita memberikan metformin karena efek samping metformin adalah bloating/ kembung. Apakah saya akan menambah obat dispepsia atau mengganti sediaan obat DM saya? itulah pentingnya clinical judgment, setiap klinisi harus betul-betul memiliki pertimbangan terhadap kondisi klinis pasien. Lalu beri penekanan jika obat DM ini harus diminum terus, yang bisa kita lakukan naik turun dosis. apakah DM bisa sembuh dok? bisanya kita kontrol supaya gula darah aman.
Kadar gula darah ini merupakan hasil dari 3 hal = 1. makanan yang kita makan, 2. aktivitas fisik yang kita lakukan, 3. jumlah insulin ..
Jika kita sudah berusaha betul supaya pasien jaga pola hidup sehat, obat juga sudah adekuat namun tetap gula darah tidak terkontrol setelah 3 bulan. Konsulkan ke dr penyakit dalam , apakah perlu ganti regimen obat atau inisiasi insulin. (pentingnya pasien punya BPJS karena pengobatannya masih panjang.)
Kalau kita bisa inisiasi insulin di FKTP silakan..
Mulai dengan insulin basal (long acting insulin) dosis 10U
evaluasi GDP, Target: 80-130 mg/dL
jika GDP < 80 mg/dL –> kurangi dosis insulin basal 2 Unit
jika GDP > 130 mg/dL –> tambah dosis insulin basal 2 unit
5. Monitor kadar gula darah (evaluasi GDA as soon as possible setelah kita KIE pola hidup sehat dan beri intervensi OAD, coba evaluasi 3 hari/ 1 minggu post pemberian obat bisa GDA/GDP) Jika pasien BPJS, bisa diupayakan untuk didaftarkan PROLANIS supaya kita bisa cek HbA1c, Lipid profile, microalbumin, dan creatinin tiap 6 bulan.
Cara memberi feedback (sandwich) apresiasi dahulu hal-hal yang sudah dilakukan pasien, jika hasil gula darah sudah terkontrol baik ya alhamdulillah kasih apresiasi lagi. Jika gula darah belum terkontrol baik, evaluasi 2-3 hari terakhir pola makan/ aktivitas bagaimana/ minum obat tidak? tetap beri semangat sampai gula darah terkontrol. Jika sudah terkontrol setidaknya 1 bulan sekali pasien harus kontrol untuk cek GDP/GDA
Screening kesehatan mata penting juga, jika gula darah pasien sudah stabil perlu dicek ke dokter spesialis mata. Untuk diperiksa kondisi TIO, lensa, retina saat ini bagaimana? apakah kondisinya retinopati diabet yang proliferatif, non proliferatif, atau normal-normal saja. minimal 1 tahun sekali cek kondisi mata. Jangan tunggu pasien mengeluh mata mulai buram/tidak nyaman.. kita harus selangkah lebih maju dari penyakitnya.
Apa kabar Posbindu PTM? iya semua orang terfokus menghadapi pandemi.. semoga Posbindu PTM sebagai sarana skrining pasien-pasien lansia bisa jalan lagi dengan Prokes..
-the real double burden-
Menjadi dokter itu seni. tidak bisa kita patok pasti 1+1 =2.
Pasien dengan diagnosis sama, tidak selalu sama terapi nya.
Terapi kita, ikhtiar kita, doa-doa kita dan pasien, hanyalah sunatullah menjemput takdir terbaikNya.
Dan hanya dengan izin Allah SWT, Rabb semesta Alam, pasien-pasien kita bisa membaik.
sering ya mendapati, jaga IGD di hari-hari menjelang lebaran/ saat lebaran pasien terkena mercon, kembang api dsb.. seringnya wajah terkena mercon..
tata laksana awal tentu tetap memastikan Airway, Breathing, Circulation aman.
lalu tata laksana luka bakar pada mata pasien
Evaluasi : Visus, tekanan intraokular, ukuran pupil, reflek pupil, gerak bola mata
Menentukan masalah : eyelid injury?, iskemik limbus?, erosi kornea?
Manajemen awal : Irigasi untuk menghilangkan corpus alienum (kertas/plastik mercon dsb)
Rujuk
beri pantocain, irigasi, evakuasi corpus alienum yang menempel di okuli. sebisanya.. kalau ada sisa-sisa corpal, atau posisinya sulit.. serahkan pada yang berwenang..
*Kalau ada open globe injury (laserasi kornea/sklera, atau ada prolapse isi bola mata) langsung tutup kassa ya, minimalisir manipulasi pada mata pasien.
beri terapi suportif, ex antinyeri jika nyeri.
posisi mata ditutup kasa, tanpa penekanan.
rujuk ke sp.m
Sumber :
Bawany S, Macintosh T, Ganti L. Ocular Thermal Burn Injury in the Emergency Department. Cureus. 2020;12(2):e7137. Published 2020 Feb 28. doi:10.7759/cureus.7137 (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC7105268/)
Pasien hiperurisemia asimtomatik2 dianjurkan untuk diberikan terapi farmakologi apabila kadar asam urat > 9mg/dL atau kadar asam urat >8 mg/dL pada pasien dengan komorbid kardiovaskular (gangguan ginjal, hipertensi, diabetes melitus, dan penyakit jantung iskemik).
Terapi Non Farmakologi
a. Minum cukup (8-10 gelas/hari)
b. Mengelola obesitas dan menjaga berat badan ideal.
c. Hindari konsumsi alkohol
d. Pola diet sehat (rendah purin) –> kategori :a. Pantang : jeroan, seafood, mlinjo, b. Dibatasi : kacang dan olahannya, bayam.
e. Latihan fisik sedang 3-5x/minggu2 –> sesuaikan dengan kondisi pasien, hindari latihan fisik yang membuat persendian pasien semakin radang.
Terapi Farmakologi
a. Simptomatik : NSAID, kolkisin, kortikosteroid
b. Obat penurun asam urat : a. Golongan inhibitor Xantin oksidase yaitu Allopurinol dan febuxostat. Dosis Allopurinol 100-800mg, target Asam urat < 6mg/dL1. b. Golongan urikosurik : Probenecid (1-2 g/hari)
Sumber :
1KMK 514 PPK FASKES PRIMER
2IRA,2018. Pedoman Diagnosis dan Tata Laksana Gout. (Klik di sini)