Dislipidemia

Dislipidemia menjadi salah satu faktor risiko terjadinya aterosklerosis. Aterosklerosis menjadi patofisiologi berbagai penyakit seperti penyakit kardiovaskular, stroke, obstruksi pembuluh darah perifer dsb. Lalu bagaimana kita bisa memberikan terapi secara optimal?

Apakah setiap orang memiliki cut off yang sama untuk kontrol lipid? apakah <200 mg/dL patokan untuk semua orang dikatakan kolesterol terkontrol?

  • Definisi dislipidemia

Dislipidemia adalah kelainan metabolisme lipid yang ditandai dengan peningkatan maupun penurunan fraksi lipid di dalam darah.

Klasifikasi Kadar Lipid Serum berdasarkan NCEP III

Kolesterol Total (mg/dL)
<200Optimal
200-239Diinginkan
>=240Tinggi
Kolesterol LDL (mg/dL)
<100Optimal
100-129Mendekati optimal
130-159Diinginkan
160-189Tinggi
>=190Sangat Tinggi
Kolesterol HDL (mg/dL)
<40Rendah
>=60Tinggi
Trigliserid (mg/dL)
<150Optimal
150-199Diinginkan
200-499Tinggi
>=500Sangat Tinggi
  • Pendekatan tata laksana dislipidemia

Pendekatan tata laksana dislipidemia dapat dimulai dari penggalian faktor risiko dan penyakit kronis yang diderita pasien. Setelah mengetahui faktor risiko pasien, kemudian kita menentukan LDL awal pasien dan menentukan target LDL pasien.

sumber

RiskLDL-C (mg/dL)Non HDL-C (mg/dL)
Very High Risk Group
– Coronary Artery Disease
– Atherosclerotic stroke and TIA
-Peripheral artery disease
<70<100
High Risk Group
-Carotid artery disease
-Aneurysm aorta
-Diabetic
<100<130
Moderate Risk Group
– Two or major risk factors
<130<160
Low Risk Group
-One or fewer risk factors
<160<190
  • Risk Factors : Age (male ≥ 45 years, female ≥ 55 years), family history of premature coronary artery disease, hypertension, smoking, hypo-HDL-C

Life style modification :

  • Diet

Pada pasien dengan kadar LDL tinggi dapat dianjurkan untuk mengurangi lemak jenuh dan meningkatkan lemak tak jenuh. Pada pasien dengan tinggi kadar trigleserida perlu dikurangi asupan karbohodrat, alkohol, dan lemak. Minta pasien untuk mengurangi/ berhenti merokok.

Untuk makanan yang dianjurkan2 ; 1.)fitosterol (vegetable oils,vegetables, fresh fruits, nuts, grains, and legumes–> fitosterol berkompetisi dengan kolesterol dalam penyerapan intestinal sehingga mempengaruhi level total kolesterol), 2.)Monacolin and red yeast rice (RCT in patients with ASCVD, a partially purified extract of RYR reduced recurrent events by 45%, hypocholesterolaemic effect (up to a 20% reduction). 3.) Diet berserat (evidence consistently demonstrates a TC- and LDL-C-lowering effect of β-glucan, a viscous fibre from oat and barley). 4.) Kedelai (The cholesterol-lowering effect of soy is generally attributed to its isoflavone and phytoestrogen content, which decreases progressively with the increasing degree of soybean processing). 5) Policosanol and berberine. 6) n-3 unsaturated fatty acids –>(Observational evidence indicates that consumption of fish (at least twice a week) and vegetable foods rich in n-3 fatty acids (α-linoleic acid is present in walnuts, some vegetables, and some seed oils) is associated with lower risk of CV death and stroke, but has no major effects on plasma lipoprotein metabolism)

Berikut ini contoh diet berdasar ESC 2019 :

  • Berat Badan dan Aktivitas Fisik

Pada seseorang dengan berat badan lebih, peningkatan berat badan 5-10% berat badan dapat menimbulkan abnormalitas lipid dan mempengaruhi faktor risiko kardiovaskular.

Penurunan berat badan dapat dialkukan dengan cara defisit kalori 300-500kcal/hari. Intervensi pengubahan gaya hidup ini harus dilakukan kombinasi diet dan olah raga. Pendekatan ini untuk mendapatkan perbaikan paling baik pada performa fisik dan kualitas hidup, dan mitigasi penurunan masa otot dan tulang, terutama pada kelompok yang lebih tua.

Selain itu berikan saran untuk pasien teratur berolah raga intensitas sedang dengan durasi minimal 30 menit/hari, meskipun tidak dalam kategori overweight. (intensitas sedang misal : jogging, sepeda, berenang dsb)

Terapi farmakologi:

Jenis ObatLDL-CHDL-CTrigliserida
Statin⬇18-55%⬆5-15%⬇7-30%
Resin⬇ 15-30%⬆3-5%
Fibrat⬇5-25%⬆10-20%⬇20-50%
Asam Nikotinat⬇5-25%⬆15-35%⬇20-50%
Ezetimibe⬇17-18%⬆3-4%
KMK 514,2015

Pada kasus hipertrigliseridemia, jika TG >= 500mg/dL dapat menjadi faktor risiko terjadinya pankreatitis akut. Mulai terapi dengan memberikan Fibrat atau omega-3.

PAPDI,2015

Setiap memberikan terapi pasien sebaiknya individualisasi, disesuaikan dengan kondisi pasien. Untuk High Intensity Statin contohnya Atorvastatin dan Rosuvastatin.

Terapi dislipidemia yang ada di FKTP alhamdulillah masih ada simvastatin 20 mg (moderate intensity statin).

Yang paling penting sebelum terapi obat/farmakologi ialah bagaimana membuat pasien bisa enjoy dengan modifikasi gaya hidup sehat yang kita sarankan. Karena seumpama obat statin sekalipun yang paling bagus kita berikan tapi kalau pasien tidak bisa memperbaiki gaya hidup menjadi lebih sehat/ menolak gaya hidup sehat tentu target terapi kita akan sulit tercapai. Jangan lupa juga untuk follow up profil lipid pasien dislipidemia setiap bulan.

Untuk pasien DM, yang perlu di follow up ABC

A1C, Blood Pressure, Cholesterol (Profil lipid) setiap 3 bulan.

Jika setting FKTP follow pasien DM tiap bulan

-GDP, G2PP (Beli saja glukosa anhidrat karena lebih valid secara takaran glukosa yang masuk dibanding meminta pasien makan –> karena makanannya pasti sangat bervariasi secara jumlah)

-Blood pressure

-cholesterol (terutama LDL jika tersedia)

Di beberapa webinar banyak membahas SPC (single pil combination) untuk pasien HT. Karena memang secara konsisten terapi obat dengan SPC dapat meningkatkan kepatuhan pasien untuk minum obat secara rutin sehingga efektif menurunkan tekanan darah pasien. di FKTP belum ada ya sediaan antihipertensi SPC.. kalau memang terbukti baik untuk pasien dan cost effective semoga bisa diadakan… Aamiin

*Alhamdulillah era pandemi banyak webinar gratis atau kalaupun bayar affordable sekali.. terima kasih papdi, perkeni, endokrin rscm dll 🙏🙏🙏

Sumber :

  1. Rhee EJ, Kim HC, Kim JH, et al. 2018 Guidelines for the management of dyslipidemia [published correction appears in Korean J Intern Med. 2019 Sep;34(5):1171]. Korean J Intern Med. 2019;34(4):723-771. doi:10.3904/kjim.2019.188
  2. https://academic.oup.com/eurheartj/article/41/1/111/5556353#207091451
  3. KMK 514, PPK Faskes Primer
  4. PAPDI, 2015. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Interna Publishing. Jakarta

Irigasi Mata

di FKTP

Indikasi :

  • Trauma kimia
  • Corpal (pasir/tanah/semen dsb)

Peralatan yang dipersiapkan :

  • Handschoon
  • Pantocain
  • Plester
  • Bengkok
  • Cairan kristaloid (NaCl 0,9% atau Ringer Lactat)/ sterilized water
  • Infusion set
  • Underpad
  • Spreader (kalau ada) ✌

Langkah :

  1. Informed Consent pasien maksud tujuan dan prosedur yang akan dilakukan
  2. Persiapkan diri, pasien, dan alat
  • persiapan diri : cuci tangan, pakai handschoon
  • Persiapan alat : sudah sesuai yang disebutkan di atas. Letakkan underpad di posisi bagian kepala pasien. Pasang infusion set (pakai yang makro! supaya tidak lama) ke cairan kristaloid. Pasang di tiang infus.
  • Persiapkan pasien: minta pasien berbaring di tempat tidur pemeriksaan, posisi datar. Jika pasien pakai hijab minta dilepas dahulu hijabnya (karena pasti basah). Beri tetes mata pantocain pada mata yang akan diirigasi. pasang spreader (kalau ada). Pasang bengkok di sisi mata pasien yang akan diirigasi. Rekatkan ujung infusion set ke dahi pasien dengan plester. Jika trauma kimia irigasi 1 mata dengan 2 L kristaloid. Selama proses irigasi jangan lupa minta pasien menggerakkan bola mata ke segala arah supaya cairan irigasi bisa membilas mata lebih menyeluruh hingga ke fornix konjungtiva.

Videonya kurang lebih :

*catatan : jangan lupa pakai pakai APD 😁🙏

Selain irigasi di atas, ada juga irigasi mata dengan syringe untuk pemeriksaan flouresen test.

Berikut ini cara mudah modifikasi spuit injeksi supaya aman untuk irigasi mata klik sini

Tempat memotong needle

Konjungtivitis

Kasus mata yang sering kita jumpai dalam praktik sehari-hari di FKTP.

Konjungtivitis ialah salah satu diagnosis banding keluhan mata merah visus normal

Konjungtivitis adalah keradangan yang terjadi pada konjungtiva, dapat disebabkan oleh virus, bakteri, iritasi atau reaksi alergi, dsb.

Anamnesis :

Keluhan : Mata merah, terasa mengganjal, gatal dan berair, kadang disertai sekret, tidak disertai penurunan tajam penglihatan.

Faktor risiko : Daya tahan tubuh menurun, riwayat atopi, penggunaan contact lense dengan perawatan yang tidak baik, Higine personal yang buruk (kucek-kucek mata, tidak cuci tangan dsb)

Pemeriksaan Penunjang

  • Swab konjungtiva –> pewarnaan gram/ giemsa
  • sekret –> pemeriksaan methilen blue untuk konjungtivitis gonorhea
KonjungtivitisBakterialVirusAlergi
KlasifikasiKonjungtiva hiperemis, sekret purulen atau mukopurulen dapat disertai membran/pseudomembran pada konjungtiva tarsal.
*Curiga GO : Bayi baru lahir jika ditemukan konjungtivitis pada dua mata dengan sekret purulen yang sangat banyak
Konjungtiva hiperemis, sekret mukoserous dan pembesaran lnn preaurikulerKonjungtiva hiperemis, riwayat atopi atau alergi dan keluhan gatal
Tata Laksana– ED Kloramfenikol 1-6x gtt1/hari atau EO Kloramfenikol 3×1 selama 3 hari.
*Jika konjungtivitis membran/pseudomembran (Sering terjadi pada anak-anak), ekstraksi membran dengan cotton bud (basahi dengan tetes antibiotik dahulu). Beri pantocain dan ekstraksi membran/pseudomembran. Bisa diberitahu terlebih dahulu pada pasien saat ekstraksi membran/pseudomembran bisa keluar darah tapi tenang itu tidak berbahaya.
Jika tidak dilakukan ekstraksi membran, antibiotik hanya akan menempel di permukaan membran/pseudomembran tidak masuk ke konjungtiva. –> tidak kunjung sembuh.
– GO : ED Kloramfenikol gtt1/ jam, + suntikan bayi 50.000U/KgBB tiap harisampai tidak ditemukan kuman GO pada sediaanapus selama 3 hari berturut-turut.
EO Acyclovir 3% 5×1 selama 10 hariED Flumetolon 2xgtt 1 selama 2 minggu

NB : untuk dokter di FKTP berhati-hati memberikan/ lebih baik tidak memberikan tetes mata kombinasi antibiotik+steroid untuk pasien. Jika terdapat defek kornea, tetes mata ab+steroid akan menghambat epitelialisasi kornea. cara mengetahui defek kornea –> fluoresen test, bisa dilakukan di FKTP? tidak ✌

Komplikasi : Keratokonjungtivitis

Edukasi

  • Rajin cuci tangan
  • Jika berkaitan dengan penggunaan contact lense–> hentikan penggunaan contact lense untuk sementara

Kriteria Rujukan :

  1. Jika terjadi komplikasi pada kornea
  2. Jika tidak membaik setelah diberi pengobatan

Sumber :

PB IDI, 2017. Panduan Praktik Klinik Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama 1Ed .

Mechanical Globe Injury

-Salah satu hal yang menyesakkan hati.-

Pasien datang dengan keluhan mata terkena pentalan keramik, atau terkena cakar kucing, atau terkena apapun yang menyebabkan ketidakutuhan bola mata.

Apakah bisa kembali?

yang kita usahakan “save the eyeball“, mencegah kerusakan bola mata lebih lanjut dan infeksi…

Jangan memberi harapan matanya akan pulih sempurna (secara fungsi maupun struktur) seperti sedia kala (u/ open globe injury).

Trauma mekanik bola mata terjadi ketika terdapat ruptur atau laserasi pada kornea dan atau sklera.

Ruptur bola mata diakibatkan trauma benda tumpul.

Laserasi bola mata diakibatkan trauma benda tajam.

Insidensi trauma mekanis bola mata 3,5 per 100.000 orang.

Faktor risiko :

-Usia 18-45 tahun

-laki-laki

-tidak menggunakan pelindung mata

-kecelakaan di tempat kerja

sumber

Saya bantu sedikit terjemahkan dari BETTS, terminologi untuk trauma pada mata.

Ketika mata terkena trauma benda. Bola mata intak/tidak?

Bola mata intak –> closed globe injury

Bola mata tidak intak –> open globe injury

open globe injury :

  1. Ruptur –> penyebab benda tumpul
  2. Laserasi –> penyebab benda tajam:a. Penetrating : luka tusuk, b. Perforating : luka tembus (Ada tempat masuk dan tempat keluar), c. IOFB (benda tertinggal di bola mata)

Keluhan

-nyeri pada mata

-mata merah

-robekan pada bola mata

-penurunan tajam penglihatan

-riwayat trauma

Pemeriksaan

  • Visus
  • Pemeriksaan anterior dengan penlight: subconjunctival hemorrhage ? hifema? Pupil ireguler? Prolaps iris ? Corpus alienum yang tertancap di bola mata? (corpus alienum yang tertancap di bola mata jangan diambil !)–> minimalisir manipulasi !

Terapi Awal:

  • terapi suportif -> antinyeri, antiemetik
  • Antibiotik profilaksis –> oral gol. floroquinolon ex levofloxacin, IV vancomicin/ceftazidim, beri antibiotik tetes pada mata, tutup mata dengan kasa tanpa penekanan/ gunakan eyepatch/ kaca mata–> rujuk ke Sp.M
  • ATS jika perlu
  • Rujuk Sp.M u/ Surgical repair dan removal IOFB dalam 24 jam dapat mengurangi risiko endoftalmitis.
  • KIE :Batasi hal-hal yang meningkatkan tekanan intraokuler , ex: batuk.

Sumber

https://www.aafp.org/afp/2013/1015/afp20131015p515.pdf#:~:text=Mechanical%20globe%20injuries%20occur%20when%20there%20is%20a,such%20as%20a%20knife%20or%20small%2C%20high-velocity%20projectile.

https://bestpractice.bmj.com/topics/en-us/961

Trauma Kimia Mata

Dalam kehidupan sehari-hari bisa saja terjadi, datang seorang pasien dengan keluhan baru saja matanya terkena bahan kimia rumah tangga (porstek, rinso, disinfektan, berbagai cairan pembersih lainnya), atau seorang pekerja dengan keluhan mata terkena bahan kimia di pabrik, atau juga yang ekstrim mata terkena semburan bisa ular, dsb. Semua hal tsb itu dapat dikategorikan sebagai trauma kimia mata.

Trauma kimia pada mata merupakan kegawatdaruratan absolut di bidang mata.

Senyawa yang menyebabkan trauma kimia ini dapat bersifat asam maupun basa.

Kerusakan jaringan akibat senyawa basa lebih ekstensif dibanding asam.

Mengapa?

karena pada trauma kimia asam dapat terjadi koagulasi protein sehingga ‘memblok’ kerusakan jaringan lebih dalam. Sedangkan pada senyawa yang bersifat basa, bersifat lipofilik, kerusakan jaringan yang terjadi lebih cepat dibanding asam. Pada trauma basa terjadi proses saponifikasi asam lemak membran sel, penetrasi lapisan stroma, dan merusak proteoglikan dan kolagen. Jaringan yang rusak mensekresi enzim proteolitik sehingga kerusakan yang terjadi lebih dalam.1

ASAM

ZatKomposisi kimiaTerdapat pada
Sulfuric acidH2SO4aki mobil
Sulfurous acidH2SO3pemutih
Hidrofluoric acidHFpembersih kaca
Acetic acidCH3COOHasam cuka
Hicrochloric acidHClair kolam renang

BASA

ZatKomposisi KimiaTerdapat pada
AmmoniaNH3cairan pembersih
Potassium HydroxideKOHcaustic potash contoh dalam baterai alkaline
LyeNaOHDrain cleaner
Magnesium HydroxideMg(OH)2bahan kembang api
LimeCa(OH)2mortar ,plester, semen, air kapur

Anamnesis :

Riwayat mata terkena bahan kimia ? jenis? onset? keluhan saat ini? riw. obat tetes mata sebelumnya?

Pemeriksaan :

sebelumnya, demi kenyamanan pasien, mata pasien diberi pantocain

Pemeriksaan dengan kertas pH pada ke dua mata. Jika tidak ada kertas pH bisa menggunakan kertas lakmus untuk sekedar mengetahui zat kimia bersifat asam atau basa.

Segera irigasi dengan kristaloid (RL/NaCl) sebanyak 2 L atau 4 flash 500mL (kanski, 2016) pada satu mata. Minta pasien untuk menggerakkan bola mata ke segala arah, supaya cairan dapat mengirigasi hingga ke forniks. Jika ada corpus alienum dapat diambil dengan cotton bud (ingat arah menjauhi sentral).

-evaluasi ulang pH mata.

-kemudian fluoresen test untuk mengetahui luas erosi.

-cek visus dengan snellen chart dan TIO jika ada alatnya.

lakukan pemeriksaan anterior chamber dengan penlight

Evaluasi dengan Roper Hall Classification

Grade PrognosisCorneaConjunctival/Limbus
IGoodCorneal epithelial damageNo limbal ischaemia
IIGoodCorneal haze, iris details visible<1/3 limbal ischaemia
IIIGuardedTotal epithelial loss, stromal haze, iris details obscured1/3-1/2 limbal ischaemia
IVPoorCornea opaque, iris and pupil obscured> 1/2 limbal ischaemia
Roper Hall Classification

Terapi

Standard treatment :

-Antibiotik –> salep mata antibiotik

-Agen siklopegik –> atropin/ cyclopentolat

-Artificial tears–> untuk lubrikasi mata, dan sebaiknya yang tanpa preservative agent. Pilih artificial tears yang minidose.

-Steroid drops ->pada minggu pertama trauma untuk menekan inflamasi dan mencegah kerusakan kornea lebih jauh. –> saran saya untuk penggunaan2 steroid topikal mata konsul dahulu ke sp.m.. kalau tidak ada sp.m nya lebih baik jangan diberikan.

*yang penting ada di FKTP salep mata antibiotik bisa diberikan dahulu, tutup mata dengan kasa. –> rujuk ke Sp.M

Terapi lain :

-Oral Vit c –> membantu sintesis kolagen dan menurunkan tingkat ulserasi. oral 2g/hari dibagi 4x sehari

-Oral Doksisiklin –> untuk mengurangi efek matrix metaloproteinase (MMP) yang mendegradasi kolagen tipe 1.

Dengan melakukan tata laksana awal yaitu irigasi mata dengan cairan kristaloid setidaknya kita bisa mendilusi kepekatan dan pH senyawa kimia yang mengenai mata.

Sumber : 1https://eyewiki.aao.org/Chemical_(Alkali_and_Acid)_Injury_of_the_Conjunctiva_and_Cornea

Belajar EKG (lagi)

Urutan Baca EKG

1. IramaGelombang P diikuti QRS = Sinus
Irama selain sinus :
– Supraventrikular takikardi
– Atrial fibrilasi
– Atrial Flutter
-Ventrikel Fibrilasi
-Ventrikel Flutter
-dll
2. Frekuensi-300 dibagi kotak besar di antara 2 gelombang R, atau
-1500 dibagi jumlah kotak kecil di antara 2 gelombang R.
3. RegularitasJika jarak antar puncak QRS tetap -> reguler
Jika jarak antar puncak QRS tidak tetap-> ireguler
4. AxisAxis normal = I : +, avF :+
Deviasi aksis ke kiri = I : +, avF : –
Deviasi aksis ke kanan = I :-, avF:+
Deviasi aksis ekstrim ke kanan = I: -,avF:-
5. Konduksikelainan :
– SA Blok -> No P wave
– 1st degree AV blok -> PR interval > 5 ⊞ kecil
– 2nd degree AV blok, Mobitz 1 -> PR interval prolonged gradually
– 2nd degree AV blok, Mobitz 2 -> P without QRS
-3rd AV blok Junctional Escape -> P&QRS dissociation, Junctional escape 40-60x/minute
-3rd AV blok , Ventricular escape, P&QRS dissosiation, Ventricular escape 20-40x/ minute
-LBBB -> Positif and bizzare QRS at V6
-RBBB -> Positif and bizzare QRS at V1
6. Ruang1. Abnormalitas Atrium Kanan
🍕 P tinggi dan lancip di II, III, avF
1. Tinggi ⩾2,5 mm
2. Interval ⩽ 0,11 detik
🍕Defleksi awal di V1 ⩾ 1,5 mm
Bentuk gelombang P disebut “P pulmonale
2. Abnormalitas Ventrikel Kanan
🍔Interval P di II melebar ⩾ 0,12 detik
🍔 Gelombang P berlekuk, karena mempunyai dua puncak, RA&LA
🍔 Defleksi terminal di V1 negatif dengan lebar ⩾ 0,04 detik dan dalam ⩾ 1 mm
Kriteria ini disebut kriteria morris
Bentuk P pada AVKa disebut “P mitrale
3. Abnormalitas Ventrikel Kanan
🍟 Rasio R/S yang terbalik :
– R/S di V1 > 1
– R/S di V6 < 1
🍟 Sumbu QRS pada bidang frontal bergeser ke kanan
🍟 Beberapa kriteria tambahan :
WAV di V1 ⩾ 0,035 detik, depresi ST dan inversi T di V1 . S di I,II,&III
4. Abnormalitas Ventrikel Kiri
🌭Kriteria Voltage :
Voltage ventrikel kiri meninggi
macam-macam kriteria, pilih salah satu :
– R atau S di sadapan ekstremitas ⩾ 20 mm
– S di komplek VKa ⩾ 25 mm
– R di komplek Vki ⩾ 25 mm
-S di Vka + Vki ⩾ 35 mm
🌭 Depresi ST dan T inversi di kompleks Vki (Sering disebut “strain pattern”
🌭 Abnormal Atrium kiri
🌭 Sumbu QRS pada bidang frontal > – 15 °
🌭 Interval QRS atau WAV dikompleks Vki memanjang :
– interval QRS ⩾ 0,09 detik
-WAV ⩾ 0,04 detik
7. PJK (Penyakit Jantung Koroner)-Iskemik -> T inversi, ST depresi
-Infark -> ST elevasi
* Lokasi infark :
🍘 Anterior : V1-V6
🍘 Anteroseptal : V1-V4
🍘 Anterior ekstensif : V1-V6, I-aVL
🍘 Inferior : II,III, aVF
🍘 Lateral : I,aVL, V5-V6
🍘 Posterior : V7-V9
🍘 Ventrikel kanan : V3R-V4R
– Nekrosis -> Q patologis, QS
8. Lain-lain-Prematur Ventricle Contraction (PVC)/ Prematur Atrial Contraction (PAC)
– Gangguan Elektrolit :
🍙 Hiperkalemia : Evolusi gelombang T hiperakut, pemanjangan interval PR dan pendataran gelombang P, serta pelebaran komplek QRS
🍙 Hipokalemia : Depresi segmen ST, pendataran gelombang T, gelombang U
🍙 Hipokalsemia : Pemanjangan interval QT
🍙 Hiperkalsemia : Pemendekan interval QT
– Efek digoxin

Non-Healing Wound : Should we consider Marjolin’s Ulcer?

Suatu hari datang, seorang bapak 60 thn, dengan luka pada perut bagian kiri, nyeri +. Luka muncul sejak dua tahun yang lalu. Luka makin lama makin besar dan dalam. Luka kadang berdarah. Selama ini oleh pasien diberi obat salep kortikosteroid + antibiotik. Riwayat Diabetes Mellitus terkontrol dengan obat oral. Riwayat trauma (-)

Ukuran ulkus +-, P 8cm, L 5 cm, Ketebalan = 0,5 cm. Dasar mukosa, basah.. Mudah berdarah . Pus (-).

GDA : 170 mg/dL

Kita coba rawat luka beberapa minggu dengan segala macam dressing. Hingga akhirnya memasukin 1 bulan. i feel it was suspicious.. its unordinary wound.. setiap buka kassa/ dressing selalu basah, selalu berdarah..

cek Hb –> 10,.. g/dL

even its just slightly anemia ya..dan ga ada progres perbaikan sama sekali..

Hingga pada satu pemikiran -curiga keganasan-

Oke, baiknya saya rever aja ke bedah. sometimes we need to know our ability/capacity..

pitfalls : luka kronis tidak membaik dalam 1 bulan perawatan, luka mudah berdarah dan ada anemia.

Setitik pencerahan dari dokter yang saya temui, dr bedah plastik.. kalau dari analisis beliau dari history dan appearance the wound, she guess its a marjolin ulcer.. so just learning about it !!!

Ulkus Marjolin

Ulkus marjolin ialah keganasan kulit yang terbentuk pada area dengan riwayat luka pada kulit, bekas luka lama, dan luka kronis. Ulkus marjolin diambil dari nama seorang dokter bedah dari Perancis, Jean Nicolas Marjolin, yang menemukan terbentuknya vili padat pada sikatrik luka bakar. Keganasan yang sering teridentifikasi dari ulkus ini ialah Squamous Cell Carcinoma walaupun dapat ditemukan jenis keganasan lainnya ( misal basal Cell Carcinoma). Lesi bersifat agresif dengan prognosis buruk dan angka kekambuhan yang tinggi. Pencegahan UM dengan manajemen luka bakar yang sesuai dan penemuan awal perubahan keganasan diikuti reseksi pembedahan merupakan hal penting. 1

Patogenesis dari ulkus marjolin (UM) ini ialah suatu karsinogenesis bekas luka dan terbentuknya UM perlu dipelajari lebih lanjut. Dari hasil penelitian didapat adanya ekspresi IncRNA yang menyimpang memiliki peran penting dalam patogenesis dan terbentuknya UM.2

Flow chart Diagnosis dan Terapi Ulkus Marjolin3

NB : Untuk mengetahui perubahan sel-sel yang terjadi pada ulkus kronis tentu dibutuhkan modalitas biopsi PA. (harus dirujuk dari FKTP)

Referensi

1 Shah M, Crane JS. Marjolin Ulcer. 2021 Jul 18. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2021 Jan–. PMID: 30422456.

2 Liu Z, Ren L, Tian J, Liu N, Hu Y, Zhang P. Comprehensive Analysis of Long Noncoding RNAs and Messenger RNAs Expression Profiles in Patients with Marjolin Ulcer. Med Sci Monit. 2018 Nov 2;24:7828-7840. doi: 10.12659/MSM.911177. PMID: 30385735; PMCID: PMC6228116.

3 Tian, Ju & Zou, Ji-Ping & Xiang, Xiao-Fei & Tang, Jian-Bing & Cheng, Biao. (2020). Marjolin’s ulcer: A case report and literature review. World Academy of Sciences Journal. 3. 10.3892/wasj.2020.76.https://www.researchgate.net/publication/347417265_Marjolin’s_ulcer_A_case_report_and_literature_review (diakses pada 21 Agustus 2021)

The Silent Killer; Krisis Hipertensi

Krisis hipertensi ialah keadaan klinis yang ditandai tekanan darah yang sangat tinggi dengan kemungkinan akan atau telah terjadi gangguan organ target.

Krisis hipertensi dibagi menjadi dua

  1. Hipertensi darurat (HT Emergency)
  2. Hipertensi mendesak (HT Urgency)

Berikut ini tabel tata laksana Krisis HT

KelompokHT BiasaHT UrgencyHT Emergency
Tekanan Darah (mmHg)>180/110>180/110>220/140
Gejalatidak ada, kadang sakit kepala, gelisahsakit kepala hebat, sesak napassesak napas, nyeri dada, kacau, gangguan kesadaran
Pemeriksaan fisiktidak ada kelainan organ targettidak ada kelainan/ kerusakan organ target yang progresif.ensefalopati, edema paru, gangguan fungsi ginjal, CVA, iskemik jantung
Pengobatanawasi 1-3 jam mulai, teruskan obat oral, naikkan dosisawasi 3-6 jam , obat oral kerja jangka pendekpasang jalur intravena, periksa laboratorium standar, terapi obat intravena
Rencanaperiksa ulang dalam 3 hariperiksa ulang dalam 24 jamrawat ruangan/ICU
PAPDI, 2015

Target penurunan tekanan darah yaitu 25% MAP..

MAP (Mean Arterial Pressure)= (2Diastolik+Sistolik)/3

Pilihan Terapi

ObatDosisEfek Lama KerjaPerhatian khusus
Nifedipin 5-10mgdiulang/ 15′5-15 ‘4-6 jamgangguan koroner
Kaptopril 12,5-25mgdiulang/30′15-30′6-8 jamstenosis a. renalis
Klonidin 75-150ugdiulang/60′30-60′8-16 jammulut kering, ngantuk
Propanolol 10-40mgdiulang/30′15-30′3-6 jambronkokonstriksi, blok jantung
Klonidin IV 150ug6amp/250cc glukosa 5% mikrodrip30-60′24 jamensefalopati dengan gangguan koroner
Nitrogliserin IV10-50ug 100ug/cc per 500cc2-5′5-10′
Nikardipin IV0,5-6ug/kg/menit1-5′15-30′
Diltiazem IV5-15ug/kg/meni
Nitroprusid IVo,25uglangsung2-3′selang infus lapis perak
PAPDI, 2015

Perawatan Pasien COVID-19 Berdasar Gejala

Fast assesment,

Respiratory rate dan SpO2 bagaimana?

Jika SpO2 < 95% KIE agar pasien langsung ke RS…

Jika SpO2 > 95 % masih bisa diupayakan perawatan/ isoalsi mandiri di rumah (jika memungkinkan)

Referensi terbaru Tata Laksana COVID 19 edisi 4 , Januari 2022